JOGJA – Objek wisata Watu Mabur kembali menjadi pusat penyelenggaraan agenda pariwisata DIY. Setelah menjadi persinggahan ratusan peserta Jogja Experience# 2nd dari Jogyakarta Land Rover Community (JLRC), Minggu (30/6) Watu Mabur menjadi lokasi  Festival Reog dan Jatilan se-DIY.

Festival itu berhasil memikat perhatian pengunjung. Terbukti ratusan orang sejak pagi telah memadati destinasi yang berada di Dusun Lemahbang, Mangunan, Dlingo, Bantul, tersebut.

Mereka secara khusus ingin menyaksikan pagelaran seni budaya yang diadakan Dinas Pariwisata DIY. “Alhamdulillah, festival reog dan jatilan itu berhasil mendongkrak wisatawan yang datang ke sini,” ujar pengelola Watu Mabur Aris Purwanto Minggu.

Aris mengapresiasi kebijakan Dinas Pariwisata DIY memilih Watu Mabur sebagai lokasi festival. Diakui, Watu Mabur belum banyak dikenal khalayak. Dengan kerap menjadi tuan rumah acara pariwisata, dia berharap Watu Mabur makin memasyarakat. “Publik tak lagi asing dengan Watu Mabur,” kata direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Selo Aji ini. BUMDes tersebut dipercaya mengelola Watu Mabur.

Dia mengatakan, jumlah kunjungan  ke Watu Mabur terhitung masih minim. Hari-hari biasa jumlahnya antara 30 – 50 orang. Namun belakangan ini terus meningkat. “Sekarang rata-rata 200 – 300 pengunjung,” jelasnya.

Kembali ke festival reog dan jatilan, pengunjung yang menonton atraksi wisata itu bervariasi. Dari anak-anak hingga dewasa. Mereka terlihat antusias. Festival ini telah kali kesbelas diadakan Dinas Pariwisata DIY. Lokasinya setiap tahun berpindah dari satu destinasi wisata ke objek wisata lainnya.

Peserta festival berasal dari kabupaten dan kota se-DIY. Setiap peserta masing-masing menampilkan dua grup. Satu kelompok reog dan satu lagi grup jatilan. Mereka mewakili Kabupaten Sleman, Bantul, dan Gunungkidul serta Kota Yogyakarta.

“Khusus Bantul sebagai tuan rumah menghadirkan empat wakil. Dua grup reog dan dua dari jatilan,” ujar Aris.

Secara bergantian peserta menampilkan beragam aktraksi di depan dewan juri. Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharja terlihat ikut menyaksikan festival tersebut.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata DIY Aria Nugrahadi mengungkapkan, reog dan jatilan telah menjadi potensi pariwisata tersendiri. Sejumlah masyarakat menggemari kedua jenis kesenian rakyat tersebut.

Aria mengatakan, atraksi wisata budaya sebagaimana festival reog dan jatilan akan terus dikembangkan. Atraksi tersebut akan ditampilkan di objek-objek wisata agar menarik perhatian pengunjung.

“Destinasi wisata tanpa didukung atraksi seni budaya kurang diminati wisatawan. Keduanya harus berjalan beriringan dan saling mendukung,” katanya. (kus/zl)