Di usia yang masih belia, Sumarno sudah berkeliling dunia. Mewakili Indonesia. Di eranya, cabor golf Indonesia mampu menembus peringkat 100 dunia.

AHMAD SYARIFUDIN, Sleman

”MELIHAT ada kayu pete saya berpikir untuk membuatnya menjadi stik golf. Pertama kali main golf pakai stik buatan sendiri, memakai kayu pete,” kenang Sumarno menceritakan pengalaman pertamanya bermain golf.

Nama Sumarno di DIJ sangat beken. Khususnya di cabang olahraga (cabor) golf. Pria kelahiran Deli Serdang, Medan, Sumatera, itu pernah masuk tim nasional putera. Yang mewakili Tanah Air di berbagai kejuaraan internasional. Dan, Sumarno saat ini masih aktif sebagai pelatih di berbagai klub golf di DIJ.

Perjalanan karir Sumarno benar-benar dimulai dari titik nol. Bahkan, di luar standar terendah pemain golf amatir. Sumarno kecil sehari-hari hanya menggembala ternak. Ayahnya juga seorang petani. Tapi, kondisi itulah jalan Sumarno bersinggungan sekaligus berkenalan dengan cabor yang identik sebagai hobi orang tajir itu.

Ya, Sumarno kecil sehari-hari menggembala ternak di area persawahan sekitar rumahnya. Lokasinya tak jauh dari lapangan golf milik klub kenamaan di sana: Deli Golf Club.

Semula, Sumarno kecil diminta sebagai caddy pegolf. Saat ada jam latihan, Sumarno kecil bertugas membawa tas berisi berbagai peralatan pegolf. Beratnya mencapai berkilo-kilo.

Lama-kelamaan, tangan anak ketiga dari tujuh bersaudara ini ”gatal”. Sumarno kecil ingin merasakan bagaimana sensasinya memegang stik golf lalu memukulkannya ke bola. Nah, Sumarno kecil pun akhirnya rajin bermain golf dengan stik yang terbuat dari kayu pete itu ketika tidak ada jadwal latihan.

”Kemudian, ada pegolf yang melihat ketika saya bermain,” ucapnya.

Pegolf anggota Deli Golf Club itu tertarik dengan bakat terpendamnya. Pegolf yang petinggi di Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan itu lalu mengirimkan Sumarno kecil ke Senayan, Jakarta. Untuk mengikuti akademi golf.

”Saat itu, umur saya masih 12 tahun. Di sana (Senayan, Red) benar-benar dilatih menjadi atlet,” kenang Sumarno menceritakan salah satu fase penting perjalanan hidupnya yang terjadi pada 1972 itu.

Tak butuh waktu lama bagi Sumarno mencerna berbagai program pelatihan pegolf profesional di ibu kota. Tak lama berselang Sumarno mengikuti kejuaraan nasional junior.

”Jadi, pemenang,” tuturnya.

Menjadi jawara di usia dini mengantarkan Sumarno mengikuti berbagai program pengembangan. Dia pun mulai diperhitungkan di level nasional. Bahkan, Sumarno kemudian dipercaya mewakili Indonesia di kejuaraan tingkat Asia. Peringkat ketiga direbutnya di kejuaraan tingkat Asia di Filipina itu.

”Sejak 1973 sampai kira-kira 1986 saya keliling dunia untuk mewakili Indonesia di ajang golf internasional. Setahun bisa sampai lima kali,” katanya.

Berbagai kejuaraan internasional pernah diikutinya. Namun, Sumarno menganggap kejuaraan internasional di Thailand yang paling bergensi sekaligus membekas. Indonesia menembus di peringkat 100.

Di usianya yang telah menginjak kepala enam, Sumarno masih menyibukkan diri di dunia golf. Yang berbeda, Sumarno kali ini intens membina atlet muda. Agar cabor golf bisa ikut mengharumkan nama bangsa.

”Sayang tidak banyak yang tertarik ke golf. Mungkin ada kesan, golf itu olahraga mewah,” jelasnya. (zam)