Susuhunan Amangkurat I tak dapat melupakan kejadian yang membuat reputasi politiknya tersungkur. Gara-gara laporan Tumenggung Wiraguna, Tumenggung Danupaya dan adik kandungnya, Pangeran Alit, dirinya harus absen dari panggung politik. Kejadiannya telah berlalu 10 tahun lalu.

Amangkurat I yang saat itu masih berstatus putra mahkota. Dia kesandung kasus perempuan. Putra mahkota dilaporkan selingkuh dengan istri tercantik Wiraguna. Kasusnya kemudian diadukan Wiraguna kepada ayahnya, Sultan Agung. Langkah Wiraguna itu didukung adiknya dan guru spiritualnya, Danupaya. Kedudukan putra mahkota nyaris dicopot.

Kini putra mahkota telah resmi memimpin Mataram. Sebagai raja baru, Amangkurat telah memetakan siapa saja kawan dan lawan politiknya. Apalagi dari laporan Badan Telik Sandi Mataram, Wiraguna, Danupaya dan Alit masih sering menggelar berbagai pertemuan. Termasuk dengan kalangan ulama. Khususnya dari Tembayat yang selama ini kritis terhadap kekuasaan Mataram.

Amangkurat mencurigai mereka sedang menyusun gerakan. Sewaktu-waktu gerakan itu dapat saja mendongkel posisinya. Tak ingin terlambat, Amangkurat I menyusun strategi. Dia memerintahkan agar Wiraguna dan Danupaya disingkirkan. Caranya dengan mengirimkan ke mancanegara. Memimpin pasukan Mataram ke Blambangan.

Itu menyusul serangan orang-orang Bali terhadap Blambangan. Pasukan Mataram harus segera bertindak. Rebut kembali Blambangan sebelum lepas dari pangkuan ibu pertiwi.

Berangkatlah Wiraguna dan Danupaya memimpin ribuan pasukan Mataram. Operasi militer ke Blambangan sebenarnya semata-mata demi menyingkirkan Wiraguna dan Danupaya dari lingkaran kekuasaan. Kedua tokoh oposisi itu harus dibuang jauh.

Saat dua sekutu politiknya berangkat ke Blambangan, Alit didatangi Tumenggung Pasingsingan dan anaknya Agrayuda. Keduanya memprovokasi Alit merebut takhta kakaknya. Alasannya, kerajaan sedang sepi. Sebagian besar pejabat militer sedang ke Blambangan. Sisanya lagi sibuk mengawasi pembangunan calon ibu kota baru di Pleret.

Alit akhirnya terbujuk. Belum lagi terlaksana, rencana itu diketahui Kepala Bhayangkara Mataram Pangeran Purbaya. Kemudian melaporkan ke raja. Amangkurat I memerintahkan menangkap Pasisingan dan Agrayuda.

Setelah ditangkap, keduanya langsung dieksekusi mati. Ditebas lehernya. Kepala Pasisingan dan Agrayuda diserahkan kepada raja. Tak lama kemudian, Amangkurat I mengundang adiknya. Kepala Pasisingan dan Agrayuda dilemparkan di depan Alit. Raja berkomentar begitulah nasib orang-orang yang akan menjadikan dirimu raja. Pangeran Alit mengelak. Dia mengaku semua itu bukan gagasannya. Tapi ide Pasingsingan.

Raja memaafkan adiknya. Namun memerintahkan agar semua pengikutnya diserahkan kepada raja.  Alit menyanggupi. Dia menemui para pengikutnya. Pengikut Alit yang berjumlah 300 orang menangis. Merekaemohon agar penyerahan kepada raja dibatalkan. Mereka khawatir nasibnya sama dengan Pasisingan dan anaknya.

Alit merasa iba. Dia kemudian memerintahkan para pengikutnya menyiapkan senjata. Melanjutkan rencana menguasai istana. Lagi-lagi rencana ini tercium penguasa. Amangkurat I memerintahkan pasukan pengamanan raja (paspamraja) tidak melawan adiknya.

Namun saat tiba di istana, pasukan Alit tidak kompak. Tinggal enam orang yang benar-benar setia. Lainnya sudah ngacir lebih dulu sebelum  sampai istana. Terjadi insiden di depan keraton. Tersulut emosi Alit membunuh Adipati Sampang Demang Melaya dengan kerisnya, Kyai Brongot Setan Kober.

Setelah terbunuhnya Alit, para ulama yang mendukungnya mulai diburu. Sangkaannya hendak bertindak makar. Nasib Wiraguna dan Danupaya lebih tragis. Dua pejabat tinggi yang telah berusia sepuh itu gugur di medan laga. (kus/zam/fj)