PURWOREJO – Sebelas sekolah menengah pertama negeri (SMPN) di Kabupaten Purworejo tidak bisa mendapatkan calon siswa (casis) sesuai kelas yang tersedia. Dari data yang ada, seluruh sekolah itu termasuk kategori sekolah pinggiran.

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Purworejo F Widhi Dewanto mengungkapkan, ke-11 sekolah itu adalah SMPN 24, 38, 42, 43, 35, 39, 41, 37, 29, 30, dan SMPN 26. “Ke-11 sekolah itu memiliki daya tampung sebanyak 224 kursi, tapi total pendaftarnya 207 anak,” kata Widhi Senin (1/7).

Khusus di 11 sekolah tersebut dinas sudah memberikan kebijakan dengan menambah waktu pendaftaran. Namun tidak semua sekolah bisa menambah calon siswa. Tercatat ada empat sekolah yang tidak menambah siswa di masa perpanjangan yakni SMPN 24, 38, 42, dan SMPN 43.

“Sekolah-sekolah ini sebenarnya masih tetap bisa menerima pendaftar walaupun sudah mulai pendidikan,” tambah Widhi.
Diakui, sebagian sekolah yang belum memenuhi kuota calon siswa, dalam beberapa tahun terakhir juga tidak bisa terpenuhi. Ada banyak sebab yang menjadi pemicunya.

“Memang sekolah-sekolah ini ada di pinggiran serta berada di titik perbatasan. Seperti SMPN 35 yang ada di perbatasan antara Bayan dan Grabag,” tambahnya.

Kepala Dindikpora Purworejo Sukmo Widi Harwanto mengaku pihaknya tidak mempermasalahkan adanya sekolah yang tidak bisa memenuhi kebutuhan siswa tersebut. Ini juga dikarenakan jumlah siswa yang hendak masuk ke SMP menurun.

“Data menyebut lulusan SD itu semakin turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Belum lagi anak juga memilih untuk bersekolah di swasta,” kata Sukmo.

Disinggung guru-guru sertifikasi yang terdampak tidak terpenuhinya kuota siswa, ia mengaku sudah memiliki langkah. Guru akan diarahkan untuk mencari sekolah lagi guna memenuhi jam mengajarnya.

“Kami juga punya bank data, sekolah-sekolah yang masih memungkinkan ada guru untuk masuk. Jadi mereka yang kurang jam bisa mengokunikasikan ke dinas,” tambah Sukmo. (udi/laz/fj)