TINDAKAN Susuhunan Amangkurat I menyingkirkan kelompok oposisi dan memburu sejumlah ulama pendukung Pangeran Alit terus berlanjut. Situasi Mataram menjadi tidak kondusif. Banyak ulama yang ditangkap dan dihukum. Tensi politik memanas.

Panasnya suhu politik Mataram mirip dengan kejadian saat awal-awal Sultan Agung bertakhta. Muncul kelompok opisisi yang mengkritisi kebijakan raja. Namun langkah Sultan Agung tidak sekeras tindakan anaknya.

Kondisi itu dirasakan betul oleh Pangeran Purbaya. Pangeran senior yang rela pasang badan demi keponakannya naik takhta itu baru saja pensiun. Dia baru saja melepas jabatan panglima Tentara Nasional Kerajaan Mataram dan kepala Bhayangkara Mataram.

Purbaya digantikan pejabat yang lebih muda. Nasib serupa dialami Tumenggung Singaranu. Dua tokoh penting di masa Sultan Agung itu berangsur-angsur dikurangi perannya. Keduanya diganti dengan pejabat yang lebih muda pilihan Amangkurat I.

Namun, bersamaan dengan itu Purbaya merasakan kebijakan raja dalam menegakkan hukum dinilai semakin brutal. Siapa saja yang dinilai tidak sejalan dituduh musuh penguasa. Nasibnya hanya dua. Ditangkap lalu dibui. Habis itu dieksekusi mati.

Kejadian itu juga dialami beberapa purnawirawan pejabat militer Mataram. Khususnya yang dulu pernah menjadi anak buah Wiraguna dan Danupaya. Mereka dinilai sebagai komplotan pendukung oposisi. Layak dihabisi. Jasa dan peran mereka dalam operasi-operasi militer di era Sultan Agung begitu mudah dilupakan.

Keresahan itu sangat dirasakan Purbaya. Bersama Singaranu, kakak Sultan Agung atau pakdhe raja itu tak lagi memegang jabatan strategis. Purbaya dan Singaranu ditampung di lembaga penasihat raja.

Dewan Pertimbangan Raja (Wantimraja). Tugasnya memberikan saran dan nasihat. Purbaya mengkritisi kebijakan raja menangkap para purnawirawan tersebut. Khususnya dalam menyelesaikan masalah Pangeran Alit, Wiraguna, dan Danupaya.

Keadaan itu membuat Purbaya tidak lagi bergairah bekerja. Dia sudah beberapa waktu tidak masuk kantor. Purbaya memilih absen dari rapat-rapat kabinet yang digelar raja. Biasanya berlangsung dua kali seminggu. Setiap Senin dan Kamis.

Tindakan Purbaya itu menimbulkan rasanan. Raja juga mulai mempersoalkannya. Purbaya dianggap tidak loyal. Sikapnya tidak bersedia memenuhi undangan penguasa Mataram dapat diartikan sebagai pembangkangan. Muncul tuduhan, Purbaya hendak mengikuti jejak Wiraguna dan Danupaya. Melawan raja.

Susuhunan Amangkurat I telah memerintahkan pasukan telik sandi mengadakan pengawasan ke kediaman Purbaya. Semua gerak-geriknya.

Perseteruan raja dengan Purbaya itu rupanya didengar Ratu Batang, ibu suri raja. Permaisuri Sultan Agung yang punya gelar Ratu Kulon itu cemas dengan situasi tersebut. Sebab, Purbaya adalah pendukung anaknya bertakhta. Sebagai mitra koalisi perannya sangat dibutuhkan. Amangkurat I dan Purbaya tidak boleh berpisah jalan. Begitu pikiran Kanjeng Ratu.

Ratu Batang yang punya pengaruh kuat di Mataram lantas menyusun strategi. Dia berencama mempertemukan Amangkurat I dengan Purbaya di makam Sultan Agung di Imogiri. Keduanya dipanggil secara terpisah.

Sebelum dipertemukan di depan makam keramat tersebut, mula-mula yang diundang raja. Purbaya menunggu di lapangan tak jauh dari lokasi pertemuan. Setelah itu barulah Purbaya dipanggil. Pertemuan Imogiri itu berhasil mencairkan kebekuan hubungan Purbaya dengan keponakannya. Ibu Suri kembali menunjukkan kelasnya sebagai politikus hebat.(yog/bersambung)