SLEMAN – Desa Condongcatur terpilih menjadi salah satu dari tiga desa terbaik di Kabupaten Sleman sebagai tempat pembelajaran praktik program Percepatan Pengarusutamaan Gender (PUG) yang diinisiasi  Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kamis (27/6).

Staf Ahli Menteri PPPA Bidang Komunikasi Pembangunan Ratna Susianawati saat ditemui di sela acara menjelaskan, terpilihnya Desa Condongcatur di Kecamatan Depok ini merupakan hasil koordinasi dengan Kabupaten Sleman.  “Dua desa lain yang terpilih yakni Desa Sumberharjo di Kecamatan Prambanan dan Desa Wukirsari di Kecamatan Cangkringan,” katanya.

Desa Condongcatur salah satunya dinilai pemerintah berada pada level mentor, karena dari sisi tataran pencapaian pengarusutamaan gender mempunyai level yang lebih tinggi, aktif, dan konsisten.

“Untuk itu, kami mengajak 16 provinsi, juga kabupaten/kota yang lain untuk belajar banyak dengan Jogja dan Sleman,” ujarnya saat ditemui di Pendapa Balai Desa Condongcatur.

Ratna menilai metode pembelajaran teori belum cukup hanya sebatas diskusi di dalam ruangan saja tanpa melihat praktik di lapangan. Tiga desa yang dikunjungi ini dinilai mempunyai karakteristik unggulan serta sesuatu yang berbeda. “Hal itu tentu saja bisa dikombinasikan menjadi refrensi, bahkan bisa ditiru provinsi, kabupaten dan kota lain,” ujarnya.

Ratna berharap seluruh provinsi yang ikut serta dalam acara itu dapat meniru implementasi isu gender yang ada di tiga desa. “Ini menjadi problem solving dalam menyelesaikan berbagai persoalan, utamanya dalam mengintegrasikan isu gender dalam perspektif pembangunan nasional dan daerah,” katanya.

Ke-16 provinsi yang ikut dalam kegiatan itu adalah Jambi, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Aceh, Sumatra Selatan, Bali, Kalimantan Utara, Sulewasi Barat, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, NTB, dan NTT.

Sementara itu, Kepala Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji menyampaikan, Pemdes Condongcatur berkomitmen penuh dalam mengoptimalkan isu kesetaraan gender dalam setiap kebijakannya. Dalam hal ini, Desa Condongcatur menunjuk Padukuhan Joho sebagai tempat pembelajaran praktik program PUG.

“Kami bersyukur banyak peserta dari berbagai provinsi tertarik dan ingin mereplikasi kebijakan pemerintah desa di daerahnya masing masing,” katanya.

Reno memaparkan, untuk program praktik langsung di lapangan ini, peserta langsung diajak menuju enam titik kegiatan, yakni melihat langsung  instalasi pengolahan air limbah (IPAL), kebun KWT, pabrik kerupuk, bank sampah, rumah sehat. Di titik terakhir, dengan berjalan kaki peserta kemudian menuju Balai Padukuhan Joho melihat pameran hasil kerajinan. Di antaranya batik jumputan, batik ecoprint, produk daur ulang, kerajinan tangan, produksi makanan dari kelompok wanita tani.

Di Balai Padukuhan, 100 peserta dari berbagai provinsi diajak melihat beberapa simulasi dari Satgas PPA RW 18 Leles, Satgas PKDRT Manukan, Satgas Keluarga Sadar Gender, dan sebagainya.

“Kami sangat tersanjung dengan adanya acara ini. Banyak peserta yang berbelanja produk kami seperti batik ecoprint dan makanan- makanan produk olahan dari KWT,” katanya. (**/naf/laz/fj)