JOGJA – Setelah menjaga keangkeran Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul selama hampir tiga musim, PSIM Jogja akhirnya takluk juga. Ironisnya, tim yang takluk adalah skuad yang disebut-sebut “Los Galacticos” Laskar Mataram -julukan PSIM Jogja.

Tim bertabur bintang ini menyerah dari Macan Putih- julukan Persik Kediri di pekan ketiga Liga 2, Senin (1/7). Ini merupakan kekalahan kedua yang diraih Cristian Gonzales dkk setelah pada matchday kedua PSIM takluk 0-1 dari Mitra Kukar di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, Rabu (26/6).

Anak asuh Vlado- julukan Vladimir Vujovic menyerah 1-2. Sontak, tercorengnya rekor tak pernah kalah di SSA dalam putaran Liga 2 selama beberapa tahun mendapat sambutan minor dari puluhan ribu suporter.

Teriakan Vlado out  menggema usai wasit Sigit Budiyanto meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga. Pelatih berdarah Eropa dan sejumlah pemain bintang ternyata tidak mampu memberikan poin sempurna. Terlebih lagi ini di kandang sendiri.

Padahal, angin segar sempat berhembus ketika Rossi Noprihanis membuka kran gol bagi PSIM di menit ke-39. Bahkan, intensitas serangan yang semakin gencar di babak kedua seolah menjadi penanda bakal terciptanya gol lanjutan bagi Laskar Mataram.

Keasikan menyerang, justru meninggalkan celah di lini pertahan PSIM Jogja yang dikawal Hisyam Thole dkk. Petaka terjadi ketika pemain bertahan PSIM Jogja melakukan pelanggaran. Gol tendangan bebas Risna Pahala di menit ke-54 seolah menjadi awal petaka gawang PSIM Jogja yang dikawal Putu Pager.

Setelah gol tersebut, berkali-kali barisan penyerang tim Macan Putih – julukan Persik Kediri mengancam gawang PSIM melalui skema serangan balik. Puncaknya, Arif Yanggi Rachman membuat pendukung PSIM Jogja terdiam.

Kesalahan antisipasi barisan pertahanan PSIM Jogja, membuat pemain bernomor punggung 94 itu lepas dari perangkap offside. Sepakan datar Arif, memaksa Putu memungut bola dari gawangnya. Skor 2-1 bagi tim tamu tetap bertahan hingga waktu pertandingan berakhir.

Pelatih PSIM Jogja Vladimir Vujovic berkilah bahwa kekalahan yang diraih di luar dugaan. Menurutnya sebelum laga, skuad sudah menganalisis permainan Persik dan bermain sesuai dengan yang diinstruksikan. “Tapi siapa yang mengerti hasilnya seperti ini,” kata Vlado.

Vlado pun menyayangkan sejumlah kesalahan-kesalahan elementer yang dilakukan oleh anak asuhnya. Dia menilai, persoalan disiplin dalam bermain menjadi perhatian serius yang akan dibenahi. “Kami punya waktu berbenah 14 hari. Akan kami analisis permainan hari ini untuk evaluasi,” jelasnya.

Persik Kediri memang sukses membaca kelemahan skema permainan Laskar Mataram. Pelatih Persik Budiarjo Thalib menyebut persolan transisi dari menyerang ke bertahan menjadi titik lemah yang berhasil di manfaatkan. “Saya lihat vidio permainan mereka saat melawan Mitra Kukar. Ada kelemahan dari PSIM dalam melakukan transisi dan anak-anak berhasil memanfaatkan celah itu,” katanya.

Atas hasil tersebut PSIM Jogja bertengger di posisi ketujuh klasmen Liga 2 Grup Timur dengan nilai tiga hasil sekali menang dan dua kekalahan. Sementara Persik Kediri berada di posisi puncak dengan klasemen dengan nilai 7. (bhn/cr18/din/rg)