SLEMAN – Kasus tewasnya dua pemuda berinisial AR, 20, dan RT, 17, warga Seyegan yang diduga pelaku klithih akibat ditabrak mobil pikap dengan nopol R 1913 VE di Margokaton, Seyegan, Sleman, Desember 2018 silam masih terus ditangani Polres Sleman. Saat ini pengemudi Nur Irawan, 35, warga Margomulyo, telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus itu.

Kakak tersangka yang tidak mau dikorankan namanya mengaku legawa. Walaupun, menurutnya, tidak mudah. “Bahasanya ya ikhlas walaupun tidak mudah, tapi ya harus legawa dengan keadaan ini,” katanya saat ditemui di kediaman NI, Margomulyo, Seyegan, kemarin (1/7).

Dia menjelaskan, hingga saat ini dari pihak keluarga masih menunggu proses persidangan. Keluarga, juga telah melakukan pendampingan.

Sebelumnya, baik dari pihak tersangka dan keluarga dari dua pelajar yang tewas itu sudah ada upaya untuk bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Namun salah satu keluarga pelajar yang meninggal melaporkan kasus itu ke kepolisian. “Kami pasrah tapi tetap akan kami jalani prosesnya,” katanya.

Dikatakan, dari masyarakat yang pernah menjadi korban klithih, sebenarnya juga mendukung pihaknya. “Semoga adanya kasus ini bisa menjadi efek jera untuk para pelaku klithih, harapan kami seperti itu,” lanjutnya.

Kejadian itu selain menewaskan dua pelajar juga membuat istri tersangka, ED, 29, luka parah di bagian kepala. Selain itu, perempuan yang belum sepenuhnya pulih nampak masih trauma dengan kejadian tersebut.

“Kejadiannya seperti apa saya tidak tahu, karena saya sudah takut lalu menutup mata. Setelah kecelakaan itu kepala saya luka serius. Sempat hilang ingatan, sampai nama kerabat dan nama suami saja tidak tahu. Ini mata kiri juga berkurang penglihatannya dan lidah mati rasa,” jelasnya.

Bahkan dia juga tidak mengetahui secara persis bagaimana kelanjutan kasus itu. Demikian dengan status sang suami yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. “Suami seperti apa keadaannya, saya tidak diberi tahu. Karena kondisi saya seperti ini saya diminta agar tidak memikirkan kejadian itu lagi. Dia takut kalau saya mikir berat jadi stres,” bebernya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Anggaito Hadi menjelaskan, penetapan status tersangka ini setelah adanya laporan dari salah seorang keluarga korban pada Januari. Lalu dari penyelidikan yang dilakukan hingga penyidikan, pada akhirnya NI ditetapkan sebagai tersangka tunggal.

“Pengemudi pikap kami tetapkan tersangka sejak April. Pasal yang kami kenakan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan yang ancamannya 15 tahun penjara,” kata Anggaito.

Kendati demikian, hingga saat ini tersangka tidak ditahan dan diharuskan wajib lapor ke Polres seminggu dua kali. Alasan tidak ditahan lantaran selama proses, tersangka selalu kooperatif. Selain itu, tersangka juga masih harus merawat sang istri yang keadaannya masih belum stabil.

Anggaito mengatakan, setelah ini pihaknya segera melimpahkan berkas ke kejaksaan. Namun atas kejadian itu ada kemungkinan jaksa memutuskan kasus tersebut masuk tindak pidana lalu lintas atau bukan.

“Karena ini kami hanya menindaklanjuti LP dari salah satu orang tua korban. Tapi untuk masuk tindak pidana apa, kami masih menunggu dari jaksa nanti,” ucapnya.

Ketika ditanya apakah aksi tersangka termasuk upaya membela diri atau tidak, pihaknya belum bisa menjawab. “Apakah yang dilakukan tersangka termasuk pembelaan atau bukan, nanti dibuktikan di pengadilan,” tegasnya. (har/laz/fj)