Jual Sampah Rumah Tangga Bisa Melalui Aplikasi Rapel

Kolektor Akan Datang ke Rumah Membeli Sampah

Zaman serba canggih menuntut semua pekerjaan agar dilakukan lebih efisien dan praktis. Adalah aplikasi bernama Rakyat Peduli Lingkungan (Rapel), warga Jogja bisa menjual sampah rumah tangganya melalui aplikasi tersebut.

ROTUN INAYAH, Jogja

Adanya bank sampah di kampung-kampung Kota Jogja sedikit banyak membantu mengurangi sampah yang dibuang ke TPST Piyungan. Bagi warga Kota Jogjakarta tidak perlu susah payah lagi dalam mengelola sampah rumah tangga. Karena ada aplikasi menarik bagi warga Jogjakarta untuk mengelola sampah rumah tangga. Khususnya sampah anorganik seperti kertas, plastik botol dan lain-lain.

Dengan adanya aplikasi Rapel, masyarakat tinggal klik, kemudian ada petugas yang datang ke rumah untuk mengambil sampah. Rapel digagasan dari sekelompok orang peduli lingkungan.

Salah satu penggagas Rapel Sekti Mulatsih mengatakan, aplikasi ini baru dirilis bulan April 2019. Awalnya, pada 2015 pihaknya diajak Pemprov DIJ untuk survei terkait Perda nomor 3 tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. Terutama sampah rumah tangga oleh masyarakat, apakah sudah sesuai aturan.

Hasil survei menunjukan, sebagian besar responden tahu ada aturan sampah yang harus dikelola di rumah. Tapi ketika sudah dipilah di rumah, digabungkan lagi dicampur lagi oleh petugas sampah. Bank sampah juga, butuh waktu lama untuk menunggu petugas sampah datang, karena lama menumpuk, misalnya sampah jenis kertas dimakan tikus.

Selain itu, ada hasil survei menunjukan bahwa sebagian masyarakat menginginkan sampah-sampah rumah tangga yang mereka ingin jual segera dijemput. Artinya ketika warga mau menjual sampah ada yang segera datang untuk membeli.

“Akhirnya ide aplikasi ini muncul, bersama teman-teman dari Jogja dan ada tim dari kota lain,” ujar Sekti saat ditemui di kantornya, di Maguwoharjo, Depok, Sleman belum lama ini.

Sekti menyebut dari aplikasi ini pihaknya tidak mengutamakan keuntungan materi. Namun lebih kepada harapan ke depan terkait pengolahan sampah.

Penggagas Rapel lainnya, Yudho Indarjo menambahkan aplikasi ini ada dua bagian. Bisa dimanfaatkan untuk user atau pemilik sampah, dan kolektor atau pengambil sampah. Jadi bisa disebut aplikasi untuk mempermudah komunikasi antara pemilik sampah dengan pengambil sampah atau tukang rosok.

“Calon user harus mengunduh aplikasi Rapel dan mendaftarkan atau registrasi dan login. Jika user ingin menjual sampah miliknya, maka selanjutnya pilah sampah anorganik sesuai jenisnya lalu kumpulkan dahulu hingga mencapai minimal satu kilogram persatu jenis sampah. Kemudian foto lalu posting sampah, dan jual sampah ke kolektor,” katanya.

User dan kolektor sebelumnya saling berkomunikasi untuk jenis sampah. Mulai dari berat sampah, harga, hingga alamat, nanti akan diambil kolektor ke alamat user.

“Nanti kolektor yang berada di dekat rumah user akan langsung mendatangi untuk transaksi. Hargai sesuai update harga pasaran yang mengacu pada harga dari pengepul sampah,” tambahnya.

Seperti halnya aplikasi layanan transportasi online, antara pemilik sampah dengan kolektor setelah selesai transaksi, bisa saling memberikan ‘bintang’. Poin ‘bintang’ dapat ditukar dengan berbagai produk promo dari aplikasi Rapel.

Keduanya berharap seluruh sampah anorganik terpilah dan bisa tertangani dengan baik, sampah yang masuk TPST Piyungan nantinya hanyalah sampah residu, dan terwujudnya energi hijau berkelanjutan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTsa)

Menurut Yudho, hingga kini, total user sekitar 700 orang, mayoritas ibu rumah tangga dan mahasiswa. Untuk kolektor sekitar 10 orang. Pihaknya membatasi perbandingan jumlah antara user dengan kolektor agar tetap ideal. “Jangan sampai kolektor merugi jika jumlah kolektor lebih banyak dari user,” tuturnya.

Operasional aplikasi Rapel untuk sementara sebatas di kawasan perkotaan Jogjakarta, yakin Kota Jogja, Kabupaten Bantul sisi utara dan Sleman sisi selatan. Jangkauan setiap kolektor ke user sekitar 5-10 kilometer. Saat bekerja, kolektor memakai atribut dan identitas resmi Rapel.

“Saya rasa Operasional perdana yang di Jogja, kami anggap Jogja paling siap secara teknis dan begitupun masyarakat cukup siap untuk menerima perubahan, kita mulai di sini,” tuturnya.(pra)