DALAM kehidupan sehari-hari seringkali kita dihinggapi perasaan marah, jengkel, sebal. Di waktu tyang lain dalam skala yang agak panjang adalah perasaan tertekan, stress, depresi, rasa takut dan kecemasan dengan hal yang tidak dipahami apa penyebabnya. Emosi negatif dan perasaan yang menggangu itu membuat performa hidup kita menurun. Kita banyak kehabisan waktu dan energi ketika mengalami itu semua. Jika tak diatasi dalam jangka panjan akan berdampak pada kesehatan tubuh.

Di sinilah filosofi stoa  bisa digunakan sebagai ”obat” untuk menangani perasaan-perasaan itu. Apa Filsafat Stoa itu? Jawabannya ada di dalam buku ini. Buku yang ditulis oleh Henry Manampiring ini membahas tentang bagaimana Filsafat Stoa ini dipahami dan benar-benar diterapkan. Bisa dibilang ini buku langka tentang petunjuk praktis penerapan filsafat stoa dalam kehidupan sehari-hari.

Buku setebal 320 halaman ini diawali dengan cerita tentang perkenalan Henry Manmpiring dengan Filsafat Stoa. Dengan mengambil buku secara acak di sebuah toko buku saat mengantarkan istrinya belanja, dia berkenalan dengan filsafat stoa melalui buku How To Be A Stoic. Buku uarya Massimo Pigliuci seolah datang di waktu yang tepat, karena pada waktu itu penulis mempunyai masalah dengan depresi dan kontrol emosi.

Dalam buku ini Henry Manampiring menjelaskan sejarah, dasar-dasar, tokoh-tokoh, dan sekaligus penerapa filsafat stoa dalam kehidupan sehari-hari. Diawali dengan cerita karamnya kapal seorang pedagang kaya bernama Zeno pada tahun 300 sebelum masehi. Pelayaran dari Siprus ke Athena itu membawa barang dagangannya berupa pewarna kain yang sangat mahal. Semuanya barang dagangannya habis dihempas sang ombak.

Sesampainya di Athena, zeno pergi ke toko buku dan menemukan sebuah buku filsafat yang menarik hatinya. Ia bertanya kepada penjaga toko buku itu, ke mana ia harus pergi untuk bisa menemui filsuf-filsuf seperti penulis buku itu. Akirnya penjaga buku menunjuk kepada orang yang sedang lewat yaitu Crates. Akhirnya Zeno belajar filsafat kepadanya.

Dalam Filsafat Stoa, sangat ditekankan untuk selalu berpikir dan bertindak rasional. Hanya saja di sini pengertian rasional lebih mempunyai arti tersendiri daripada arti harfiahnya. Rasional di sini yaitu hidup sesuai dengan hukum alam. Segala perbuatan dan keinginan yang tak selaras hukum alam akan mengakibatkan individu stress. “Some things are upon to us, something are not upon to us”. Ini adalah kutipan dari Epictetus yang penulis tekankan dalm buku ini dan menjadi dasar dari bagaimana seorang pelaku filsafat teras menyikapi segala permasalahan dalam kehidupan.

Dalam buku yang dikemas secara santai dan menyisipkan banyak ilustrasi ini, penulis mengajak pembaca untuk tidak memandang filsafat, khususnya Filsafat Stoa adalah sebuah wacana yang rumit, berat, dan jauh di awang-awang. Sebaliknya, Henri Manampiring menyajikan sebuah pemaparan Filsafat Stoa yang ‘siap pakai’ dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada tiap-tiap akhir bab Henri Manampiring juga menyertakan poin-poin penting sebagai intisari bagi pembaca agar poin-opin penting dalam bab yang baru dibaca mudah diingat.

Dalam buku ini juga memuat wawancara dengan beberapa tokoh dari psikolog sampai politikus muda. Henri Manampiring seolah memberikan contoh aplikatif Filsafat Stoa yang diaplikasikan dalam berbagai macam profesi di era milenial.

Dari segala kemenarikan dan keunikan buku Filosofi Teras, ada beberapa hal tak lazim yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman dalam membacanya. Mulai dari format paragraf rata kanan, pilihan font, lebar spasi dan ketidakjelasan dalam pergantian paragraf yang membuat buku ini sekilas kembali ke sifat asalnya sebagai bacaan filsafat yang berat. Tapi di luar itu semua, layout yang rapi, ilustrasi yang menarik, dan pemilihan tata warna dalam tiap-tiap bab membuat buku ini kembali pada tujuan awalnya, yaitu membumikan Filsafat Stoa kepada semua orang, baik penikmat filsafat ataupun bukan. (ila)

*Penulis merupakan musisi keroncong dan aktor film indie, bergiat di PAFI Kota Malang.