Siapa tak kenal mi lethek? Kuliner tradisional khas Bantul itu masih tetap ngeksis sampai sekarang. Tak lekang oleh gempuran mi instan yang kian beragam. Yasir Feri adalah salah satu penerus usaha produksi mi lethek yang legendaris itu.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul

SIANG itu begitu terik. Tumpukan mi lethek yang di-packing rapi siap diluncurkan. Ke beberapa distributor. Sebagian lagi langsung disetor ke pedagang pasar. Di rumah produksi itu Yasir Feri menyambut hangat Radar Jogja. Saat itu dia berdiri di samping bilah anyaman bambu dengan dua kaki penyangga. Anyaman bambu itu menjadi tempat menjemur mi lethek yang baru saja digiling. Jangan dibayangkan alat penggilingan tepung bahan baku mi lethek berupa mesin produksi modern. Malah sebaliknya. Alat itu sangatlah tradisional. Tenaga penggeraknya adalah seekor sapi. Tongkat penggilingan dikaitkan dengan punuk sapi yang kuat itu. Si lembu lantas diarahkan supaya berjalan memutar. Mengitari bak penggilingan bundar. Sendok gilingnya sepintas mirip alat pembajak sawah.

Alat sederhana itu mengandung sejarah panjang di balik produksi mi lethek keluarga Feri.

Mengulik sejarah mi lethek, mulai diproduksi sejak 1940-an. Usaha produksi keluarga itu diawali oleh Haji Umar Bisyir, kakek Feri. Haji Umar membuat rumah produksi mi lethek di atas lahan seluas dua ribu meter persegi. Atas dasar kepentingan sosial. Bangunan tua itu pun memiliki nilai histori penting era perang kemerdekaan. Menurut Feri, gudang mi lethek itu konon menjadi maskot sektor selatan saat penjajahan Jepang. Mi lethek buatan Haji Umar diperuntukkan warga setempat yang kekurangan pangan saat itu. “Mi lethek ini jadi pangan alternatif kala itu. Namun seiring berjalannya waktu justru kian digemari masyarakat,” ungkap Feri Sabtu (29/6).

Itulah yang mendasari keluarga Feri lantas memproduksi mi lethek untuk dijual. Sampai sekarang.

Feri bertekad mempertahankan warisan kakeknya itu. Meski tak mudah. Apalagi untuk mempertahankan label tradisionalnya. Dengan cara-cara tradisional pula proses produksinya. Butuh keberanian dan konsistensi tinggi. Apalagi persoalan nilai. Dia tak ingin mengubah konsep yang sudah ada. Itu demi melestarikan warisan agar tetap terjaga. Sejak beroperasi 79 tahun lalu. Hingga sekarang dipegang generasi ketiga. Feri masih menggunakan cara sama dalam proses pembuatannya.

Dengan penuh semangat dia lantas menjabarkan proses pembuatan mi lethek. Mi ini dibuat menggunakan bahan baku tepung gaplek dari singkong. Tepung lantas direndam dalam bak penampungan. Kemudian ditiriskan menggunakan karung. Setelah itu tepung gaplek dicampur dengan tapioka. Diaduk dengan batu selinder. Lalu dikukus. “Penggerak batu selinder ya sapi itu,” jelas pria 44 tahun itu.

Tentu bukan sapi sembarangan yang menjadi ‘tenaga kerja’-nya. Ada kriteria tertentu. Sapi harus memiliki mata dengan tatapan tajam dan tenang. Kuku sapi harus tegap ke bawah. Pun demikian punuknya. Harus tegap dan kuat. Sejauh ini Feri memberdayakan tiga ekor sapi untuk produksi mi letheknya. “Pemilihan sapi itu saya hanya menerapkan cara pandang orang-orang dulu,” katanya.

Feri juga memberdayakan warga sekitar tempat tinggalnya. Di Dusun Bendo, RT 101, Trimurti, Srandakan, Bantul. Saat ini tak kurang 35 orang dia berdayakan sebagai pegawai harian.

Saat proses pengadukan tepung, kadar air harus selalu dikontrol. Agar adonan tidak terlalu encer maupun padat. Selanjutnya, mi di cetak menggunakan mesin pres. Lalu dikukus lagi. Kemudian didinginkan selama satu malam. Selanjutnya dijemur selama minimal delapan jam. Mulai pukul 06.00 hingga 14.00.

Setiap hari Feri mampu memproduksi satu ton mi lethek. Hasil produksinya dijual di pasar-pasar lokal hingga luar Jawa. “Akhir-akhir bahkan kerap ada permintaan dari luar negeri,” ungkapnya bangga.

Mi lethek buatan Feri selalu laris manis. Setiap kali produksi langsung habis. Bahkan masih banyak pelanggan yang belum kebagian jatah. Namun, apa boleh buat. Itu batas maksimal produksi tradisional mi lethek.

Banyak pesanan bukan berarti keuntungan yang diperoleh Feri berlipat-lipat. Dia hanya mengambil keuntungan tujuh persen dari total hasil penjualan. Itu sudah cukup membuatnya bahagia. Feri pun enggan membeberkan berapa nilai produksi maupun keuntungan yang didapat. Karena dia memang tak semata-mata ingin mencari keuntungan besar. Yang penting baginya bisa memberi peluang pekerjaan bagi para tetangga.

Ternyata tak hanya mi lethek yang digemari masyarakat. Rumah produksinya pun menarik wisatawan untuk berkunjung. Tak terkecuali wisatawan mancanegara. Tak jarang saat mereka berkunjung lantas memborong mi lethek kemasan lima kiloan sebagai oleh-oleh. Rumah produksi mi lethek juga kerap menjadi lahan penelitian para akademisi.

Tentang tuntutan produksi yang kian meningkat, Feri tak menampik pentingnya alat produksi modern. Berupa mesin. Sudah ada niat dalam benaknya. Namun, jika itu memang harus terwujud Feri tetap akan melestarikan warisan budaya keluarganya itu. Dengan membangun museum bakmi lethek.(yog/rg)