PEMBANGUNAN infrastruktur ibu kota Mataram di Plered terus dilakukan. Setelah tembok keliling keraton dan istana, Susuhunan Amangkurat I menghendaki pembangunan diperluas. Salah satunya membangun bendungan dan danau buatan. Bendungan itu dimanfaatkan untuk irigasi pertanian. Mataram merupakan negara yang bertumpu pada sektor agraris. Mataram menjadi salah satu negara pengekspor beras dan palawija. Amangkurat I menyadari pentingnya menjaga kedaulatan pangan. Baginya, pangan berhubungan erat dengan kedaulatan sebuah bangsa.

Sungai-sungai yang mengitari Istana Plered kemudian dibendung. Seperti Sungai Opak, Sungai Winanga, dan Sungai Gajahwong. Pembangunan bendungan dibarengkan dengan danau.

Raja ingin memiliki bangunan indah di atas air. Amangkurat I ingin punya keraton di atas segara (danau).

Awalnya, pada 1659 bendungan dibangun di sisi selatan dan timur. Kemudian diperluas sebelah timur alun-alun. Dua tahun kemudian air yang mengalir bukan hanya dari selatan dan timur. Namun juga dari utara dan barat.

Pembangunan melibatkan lebih dari 350 ribu orang tenaga kerja. Pembangunan dinyatakan rampung pada 1663. Saat meresmikan proyek pembangunan istana di atas air itu, Amangkurat I memberinya nama Hastana Segarayasa. Artinya istana di atas danau buatan.

Kini, jejak Segarayasa masih bisa ditemukan. Namanya diabadikan menjadi desa. Desa Segarayasa baru masuk DIJ sekitar 1960-an. Desa Segarayasa, Wanalela, dan Bawuran merupakan tiga desa di Plered yang menjadi wilayah enclave (daerah kantong) Kasunanan Surakarta.

Bersama semua desa di Kecamatan Dlingo, ditambah Desa Jagalan dan Singosaren di Banguntapan, dulunya masuk Kapanewonan Kotagede Surakarta (SKa). Selepas 1960-an barulah menjadi wilayah Bantul, DIJ.

Segarayasa tak sekadar istana di atas air. Danau buatan itu kerap dimanfaatkan latihan perang angkatan laut Mataram. Di balik pembangunan Segarayasa ada visi besar raja. Amangkurat I ingin menjadikan Mataram negara maritim yang utuh, tangguh, dan ampuh.

Dibangunlah kementerian maritim dan kelautan. Kemudian pangkalan angkatan laut, sekolah pelayaran, kedutaan besar, dan konsulat. Semua berkedudukan di Tegal. Anak-anak muda Tegal dikirim belajar maritim ke Palembang.

Sejak zaman Sriwijaya, Palembang terkenal sebagai negara maritim. Diplomasi maritim dijalin dengan Kerajaan Samudra Pasai di Aceh. Tegal menjadi kekuatan maritim yang penting bagi Mataram.

Setiap tiga bulan sekali Amangkurat I berkunjung ke Tegal.  Ikut mendampingi bupati Banyumas, Pekalongan, Cilacap, Jepara dan, Semarang. Kunjungan itu dalam rangka rapat koordinasi menjadi Tegal sebagai pintu gerbang maritim.

Dasar-dasar yang diletakkan oleh Amangkurat I menjadikan Tegal terkenal. Jalur perdagangan selalu melewati Tegal. Dari keterampilan mengelola pelabuhan, kemudian berdiri pendidikan kemaritiman dan pelayaran.

TNI Angkatan Laut dirintis dari Tegal. Pendidikan perwira marinir 1945 berpusat di kota ini. Salah satu alumninya Letjen Marinir (Purn) Ali Sadikin. Dia pernah menjadi gubernur DKI Jakarta.

Tegal juga dipilih menjadi peristirahatan terakhir Amangkurat I. Sehingga populer dengan sebutan Sinuhun Amangkurat Tegalwangi. Juga diabadikan menjadi nama pendapa Kabupaten Tegal. Namanya Pendapa Amangkurat di Slawi, Tegal.(yog/rg/bersambung)