JOGJA – Sosiolog Kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM) Soeprapto menengarai aksi pelemparan bom molotov di dua lokasi di Magelang Kota bukan aksi iseng. Lebih dari itu, aksi yang terjadi hampir bersamaan tersebut sebagai bentuk teror. Pelaku diduga menaruh kekecewaan terhadap Ketua DPRD Budi Prayitno dan Polres Magelang Kota.

”Ini terkait dengan wakil rakyat atau dengan aspek politik,” jelas Soeprapto melalui sambungan telepon Kamis (4/7).

Namun, Soeprapto mengingatkan, pelaku pelemparan hanya sebagai eksekutor. Ada aktor intelektual di belakangnya. Nah, eksekutor ini diambil dari kelompok yang ingin menunjukkan eksistensi.

”Aktornya memiliki rasa kekecewaan terhadap pihak tertentu dan nyilih tangan pelaku,” ucapnya.

Bahkan, eksekutor bisa jadi sedang mengikuti tahapan rekrutmen kelompok tertentu. Kelompok ini melakukan tes keberanian kepada calon anggota baru untuk melakukan pekerjaan kotor. Menyusul permintaan klien.

”Jika berhasil, pelaku ini mendapatkan nilai tambah dan bisa masuk sebagai anggota,” katanya.

Terkait aksi penembakan di Kulonprogo, Soeprapto melihat hanya kebetulan. Rangkaian tiga peristiwa di dua wilayah itu tidak berkaitan. Namun, tak tertutup kemungkinan aksi itu sebagai bentuk kekecewaan plus dibumbui ”uji nyali”. Karena itu, Soeprapto mendorong kepolisian mengusut tuntas tiga aksi tersebut. Jika gagal, Soeprapto khawatir aksi serupa bisa terulang.

”Ini juga bisa menjadi operasi dalam melakukan tindakan yang membahayakan saat terjadi kekecewaan,” katanya. (cr7/zam/rg)