PEMBANGUNAN masjid menjadi perhatian khusus Susuhunan Amangkurat I. Masjid menjadi kebutuhan vital bagi kerajaan. Begitu ibu kota pindah dari Kerta ke Plered, masjid termasuk bangunan awal yang dibangun.

Babad Sangkala dan Babad Momana mencatat pembangunan Masjid Gedhe Plered dimulai pada 15 Januari 1749. Atau dua tahun setelah Susuhunan mengumumkan pemindahan ibu kota kerajaan.

Bangunan Masjid Gedhe Plered terkesan megah. Jauh lebih representatif ketimbang masjid serupa di Kerta dan Kotagede. Berukuran besar. Berbentuk segi empat. Masjid punya tiga pintu di sebelah timur dan serambi depan yang besar. Masjid dikelilingi tembok tebal dan tinggi. Masjid Gedhe Plered memiliki luas bangunan 40×40 meter persegi.

Megahnya Masjid Gedhe Plered itu tak lepas dari kebijakan Amangkurat I. Raja menempatkan bidang rohani dan pendidikan budi pekerti sebagai prioritas utama. Setiap Kamis Amangkurat I memberikan santunan. Fakir miskin, janda, dan anak yatim dipelihara oleh negara Mataram.

Kebijakan Amangkurat I ini sebagai upaya menyeimbangkan fungsi raja sebagai umara dan ulama. Maklum, setelah menaklukkan Giri Kedhaton, raja-raja Mataram merasa punya legitimasi di bidang kultural dan spiritual. Mereka tidak lagi tergantung pada dukungan spiritual wali semacam Giri Kedhaton.

Kedudukan raja Mataram bukan hanya penguasa pemerintahan. Namun juga pemimpin agama. Karena itulah muncul gelar Sayidin Panatagama yang melekat pada raja-raja Mataram. Gelar itu dimulai di era Susuhunan Agung Hanyakrakusuma, ayahanda Amangkurat I.

Sultan Agung menggunakan gelar Susuhunan cukup lama. Tepatnya mulai 1624 hingga 1641. Susuhunan atau juga disebut Sunan itu semula hanya digunakan oleh para wali. Kini di masa Mataram, Sultan Agung mengawali memakai gelar tersebut. Sebutan Sunan dipakai Sultan Agung selama 17 tahun. Sedangkan gelar sultan hanya digunakan selama 4 tahun. Dari 1641 hingga 1645.

Gelar susuhunan kemudian dipilih Amangkurat I. Anak Sultan Agung itu memilih gelar yang pernah dipakai ayahnya dari 1624-1641. Di masa itu pewarisan gelar sultan  belum biasa terjadi di Jawa.

Pengganti Sultan Banten yang meninggal 1651 harus mendatangkan gelar sultan dari Makkah. Baru setelah itu dia menggunakan sebutan Sultan Abufath Abdulfattah. Raja Mataram merasa keberatan harus mengeluarkan banyak biaya untuk diangkat sebagai sultan oleh orang asing. Sebaliknya, dengan segera dan cuma-cuma dapat menamakan dirinya Susuhunan.

Dipakainya gelar susuhunan ini penting artinya. Karena sejak itu sebagian besar nama raja Jawa tetap Jawa. Meski kemudian diberi tambahan berbagai sebutan dan nama muslim.

Tradisi bergelar susuhunan atau sunan itu kemudian dilanjutkan raja-raja Mataram berikutnya, setelah Amangkurat I. Dimulai Amangkurat II, Amangkurat III, Paku Buwono I, Amangkurat IV, dan Paku Buwono II.  Sunan Amangkurat II adalah anak Amangkurat I.

Amangkurat II memindahkan ibu kota Mataram dari Plered ke Kartasura. Dari rangkaian itu, Mataram agaknya lebih tepat disebut Kasunanan Mataram ketimbang Kasultanan Mataram. Selain Sultan Agung, tak ada raja Mataram yang bergelar sultan. Itu pun hanya dipakai selama empat tahun.(yog/rg/bersambung)