JOGJA – Sebelum maraknya alat timbangan digital, Indonesia memiliki berbagai alat timbang tradisional. Beberapa bahkan terpahat dalam relief Candi Borobudur.

Beragam alat ukur dan timbangan lintas zaman dipajang di ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) Jogja.  Pameran yang diselenggarakan hingga Rabu (11/7) mendatang digelar atas kerja sama antara BBY dan Bonum Art. Pameran bertajuk DATJIN ini memeragakan puluhan alat penimbang benda yang pernah dipakai dalam sistem perdagangan Indonesia maupun Internasional.

“Tujuannya adalah agar generasi muda dapat mengapresiasi beragam alat ukur dan timbangan masa lalu yang telah berjasa mendatangkan keuntungan kepada negara dari hasil bumi yang dimiliki,” ungkap kurator pameran Hermanu Jumat (5/7).

Menurut dia, sejak zaman dahulu manusia telah berupaya membuat alat-alat ukur. Namun tiap daerah memliki cara mengukur dan bentuk timbangan yang berbeda sehingga menimbulkan terkadang dapat menimbulkan perselisihan. Misalnya satu pikul Jawa berbeda dengan satu pikul Sumatra ataupun beragam satuan tradisional lain seperti iket, glajung, dan kati.

“Alat-alat ukur mulai diperbaharui pada 1923 atau pada zaman Belanda. Timbangan buatan Eropa dengan bentuk dan gunanya yang beragam mulai digunakan di Indonesia,” jelasnya.

Bentuk dan ukuran timbangan yang dipamerkan cukup beragam. Mulai dari timbangan khusus kertas berukuran tujuh sentimeter sampai timbangan jenis Bascule yang memiliki kapasitas timbang satu ton. Ada juga alat ukur benda cair, timbangan sapi, timbangan emas, takaran bensin dan sebagainya.

Sebagian besar benda yang dipamerkan masih berfungsi. Beberapa sudah ada yang berkarat karena tak pernah dipakai karena kurang praktis dan digantikan dengan alat yang lebih moderen.

Pameran mengundang ketertarikan Henri, warga Godean, Sleman. Ketertarikannya muncul karena pameran mengusung tema yang unik. “Cukup unik karena baru pertama kali ada pameran seperti ini. Kayaknya koleksinya juga langka-langka seperti barang-barang kuno,” ucapnya. (cr16/pra/er)