Stabilitas politik Mataram terjaga lebih dari satu dasa warsa. Susuhunan Amangkurat I berhasil mengendalikan pemerintahan secara efektif. Tak ada lagi kekuatan oposisi. Semua kekuatan politik bergabung di pemerintahannya. Semua kelompok dirangkul. Berbagai  jabatan penting dibagikan secara proporsional. Ada power sharing yang menggembirakan bagi semua. Mataram  benar-benar stabil secara politik.

Setelah tidak ada hiruk pikuk dan kegaduhan, pada 1659 muncul kejadian yang di luar dugaan. Raja mendadak mengeluarkan keputusan mengejutkan. Mertua sekaligus pamannya, Pangeran Pekik beserta keluarganya dituduh hendak melakukan makar.

Pekik adalah penguasa Kadipaten Surabaya yang telah takluk di bawah Mataram. Usai menjadi bawahan Mataram, Pekik dinikahkan dengan Ratu Pandansari, adik kandung Sultan Agung, ayah Amangkurat I. Dengan begitu, Pekik adalah paman dari Amangkurat I.

Hubungan kekerabatan itu berlanjut. Amangkurat I menikahi putri Pekik yang bernama Ratu Pengayun atau Ratu Pembayun. Dari pernikahan itu lahir Raden Mas (RM) Rahmat. Cucu Pekik ini kemudian diangkat menjadi putra mahkota Mataram. Gelarnya Pangeran Adipati Anom. Di dalam cerita rakyat, putra mahkota ini dinamakan Pangeran Tejaningrat.

Keharmonisan hubungan Mataram-Surabaya itu mendadak berbalik 180 derajat. Ada laporan ke raja, Pangeran Pekik sibuk menggelar berbagai pertemuan politik. Temanya membahas suksesi kerajaan. Khususnya menyangkut alih kekuasaan dari Amangkurat kepada Pangeran Adipati Anom. Muncul gagasan percepatan suksesi. Pertimbangannya, saat usia raja telah lanjut.

Tema soal suksesi itu ternyata sampai ke telinga raja. Pelaporanya, antara lain, Pangeran Giri dari Giri Kedhaton. Dia masih keponakan dari Pekik. Laporan ini ternyata membuat merah telinga raja. Tanpa banyak pertimbangan, Amangkurat memerintahkan kepala Bhayangkara Mataram bergerak ke Surabaya. Pekik harus ditangkap. Pembahasan suksesi sama artinya dengan upaya makar. Tidak mau mengakui pemerintahan yang sah.

Amangkurat I merasa gusar jika ada pihak-pihak yang mendengungkan suksesi. Dia khawatir muncul gerakan Ganti Raja sebagaimana pernah terjadi di masa ayahnya berkuasa. Pencetusnya adalah ulama-ulama dari Tembayat. Dia tak ingin gerakan politik di Surabaya merembet ke daerah lain. Harus dicegah dan ditindak.

Atas nama kekuasaan, Susuhunan tak lagi menghiraukan posisi Pekik sebagai paman sekaligus mertua. Dia menilai, Pekik telah menjadi ancaman bagi takhtanya. Tanpa banyak kesulitan pasukan khusus Mataram berhasil menangkap Pekik dan keluarganya.

Sama dengan tokoh-tokoh lain yang dituduh makar, Pekik harus mengakhiri hidupnya dengan tragis. Tokoh yang pernah berjasa sewaktu mengalahkan Giri Kedhaton itu harus menjalani eksekusi. Pekik, istri dan ketiga putranya meninggal secara mengenaskan. Jenazahnya kemudian dibawa ke Mataram. Jasadnya dimakamkan di Banyusumurup, Girirejo, Imogiri. Makam Banyusumurup belakangan dijadikan kompleks bagi para tokoh yang dianggap mbalela  terhadap Mataram.

Kejadian yang menimpa Pekik dan keluarganya itu menggoncangkan jiwa putra mahkota. Dia berniat menuntut balas. Pangeran Adipati Anom tidak terima dengan kebijakan ayahandanya. Dia menggalang aliansi politik. Koalisi diperluas. Lobi-lobi dengan banyak tokoh digalang.

Putra mahkota berhasil menggaet Pangeran Purbaya. Tokoh senior itu merupakan kakek putra mahkota. Dia kakak dari Sultan Agung dan Ratu Pandansari, istri Pangeran Pekik. Selain Purbaya, pengikut Pangeran Puger dan Pangeran Singasari, saudara-saudara putra mahkota juga bergabung. Mereka sepakat menggalang kekuatan.

Koalisi ini akhirnya tercium raja. Amangkurat I merasa dikhianati keluarganya sendiri. Bagaimana mungkin keluarga kerajaan justru bersekongkol hendak mendongkel takhtanya. (zam/rg)