JOGJA – Selain menyiapkan bonus demografi Indonesia, saat besarnya usia produktif, Kota Jogja juga siap mengantisipasi naiknya jumlah warga lanjut usia (lansia). Apalagi data terakhir, angka harapan hidup di Kota Jogja mencapai 74 tahun.

Di antaranya dengan mengeluarkan Perwal Nomor 38 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Lansia. Fokusnya pada penyelenggaraan kesejahteraan lansia dan pemenuhan beragam haknya.  Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi memprediksi jumlah penduduk usia anak dan lansia seimbang dalam 10 tahun kedepan. Keberadaan bonus demografi dan lonjakan lansia menurutnya perlu sikap khusus. “Biasanya piramida terbalik, tapi 10 tahun kedepan itu seimbang. Jadi harus memulai membangun nilai yang berbeda, karena masih banyak orang sepuh yang eksis dan aktif di kampung,” jelasnya Minggu (7/7).

Terkait pemberdayaan tak harus terimplementasi skala berat. Intinya adalah memfasilitasi keaktifan para lansia dalam kehidupan sehari-hari. Mantan wartawan ini mencontohkan konsep lansia di Singapura. Pemberdayaan tetap berlangsung meski melewati usia produktif. Hanya saja energi para lansia tetap terfasilitasi meski memasuki usia pensiun. “Tidak harus yang berat-berat, karena pada intinya bisa memfasilitasi lansia yang mandiri, masih aktif, dan produktif agar tidak nglokro,” ujarnya.

Dinas Sosial (Dinsos) Kota Jogja mencatat adanya lonjakan lansia dari tahun ke tahun. Hal ini karena usia harapan hidup meningkat. Berdasarkan data terbaru, angka harapan hidup lansia sudah berada diatas 74 tahun. Apabila konsep penataan dan pembangunan tidak sejalan maka akan menjadi beban. “Itulah mengapa ada upaya afirmasi agar tidak menjadi beban bagi Kota Jogja. Dari data kami, setidaknya ada kisaran 1.300 hingga 1.500 lansia yang berusia lebih dari 60 tahun di wilayah Kota Jogja,” jelas Kepala Dinsos Agus Sudrajat.

Dengan adanya Perwal, pemberdayaan justru mengajak para lansia terjun langsung ke masyarakat. Perannya dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan. Khususnya bagi para lansia yang memiliki spesifikasi kemampuan tertentu. Dalam tatanan ini para lansia menjadi sebuah role model. Untuk menanamkan kearifan lokal dalam interaksi keseharian. Termasuk mempertahankan tatanan, norma dan susila sebagai mahluk sosial. “Punya kewajiban dalam membimbing, mewariskan, dan menularkan keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan ke generasi penerus,” katanya.

Aktifnya kelompok lansia dibuktikan sekitar 250 lansia yang mengikuti Senam Lansia bertajuk Menjadi Lansia Sehat yang Aktif dan Manidiri di Gedung Borromeus, Rumah Sakit Panti Rapih Minggu (7/7).  Suster Yosefine Kusuma Hastuti, CB selaku Direktur Pelayanan Keperawatan RS Panti Rapih  mengungkapkan, kelompok lansia kerap dianggap sebagai beban. Baik oleh keluarga, masyarakat maupun pemerintah sehingga lansia dianggap sebagai kelompok yang tersingkir. “Lansia tetap harus diakui dan hormati martabatnya. Agar tidak tersingkir, kita beri kesenangan, edukasi dan hiburan. Lansia itu pandito atau guru bagi generasi penerus dan anak cucu,” ungkapnya.

Dokter Radijanti Anggraheni selaku ketua panitia mengatakan, senam sangat bermanfaat bagi lansia, selain untuk kebugaran sekaligus kesehatan. Selain itu dengan senam, lansia mendapatkan kegembiraan dan kebersamaan dalam suatu komunitas. Pihaknya berharap kegiatan itu bisa menjadi motivasi bagi para lansia untuk tetap sehat. (dwi/cr16/pra/er)