JOGJA – Fenomena kekerasan jalanan atau klitih, yang mayoritas pelakunya masih di bawah umur, bisa diantisipasi dengan cara sederhana. Berupa komunikasi dan interaksi intensif dari orangtua.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Jogja Emma Rahmi mengakui persinggungan langsung antara orangtua dan anak adalah sebuah kunci. Terlebih bagi anak yang memasuki usia remaja menuju dewasa.”Program atau gerakan yang kami dorong saat ini adalah Gerakan Kembali ke Meja Makan. Sebuah gerakan yang harapannya mampu memfasilitasi komunikasi antara orangtua dan anak,” jelasnya Minggu (7/7).

Emma menuturkan simpul permasalahan kenakalan remaja sejatinya karena anak tidak mendapatkan waktu dan ruang khusus dalam keluarga. Alhasil mencari teman sebaya atau komunitas yang bisa membuat nyaman. “Tidak nyaman saat di rumah karena memang tidak ada waktu dan ruang khusus. Akhirnya cari di luar rumah tapi bahayanya tidak terawasi. Bahayanya, kadang orangtua juga tidak mengetahui aktivitas anaknya,” ujarnya.

Melalui gerakan kembali ke meja makan tidak hanya mengandalkan kuantitas. Titik berat justru pada kualitas komunikasi selama berada di meja makan. Bisa mengobrolkan aktivitas atau hal-hal yang sifatnya ringan. “Intinya adalah membangun kehangatan komunikasi keluarga. Sehingga anak merasa kalau dia punya keluarga yang peduli,” katanya.

Dia menilai gerakan ini diharapkan menjadi solusi bagi generasi ‘menunduk’. Generasi ini adalah generasi yang tidak bisa terlepas dari gawai. Termasuk sebagai perantara komunikasi harian. Imbasnya ikatan emosi keluarga kurang terbangun secara matang. “Saat waktu meja makan itu benar-benar jauh dari gadget. Tidak hanya anak tapi orangtuanya juga. Karena konsepnya adalah komunikasi tatap muka,” katanya.

Terpisah, Kapolresta Jogja Kombespol Armaini mengapresiasi gerakan ini. Menurutnya komunikasi dalam keluarga adalah kunci penting. Terutama untuk mereduksi aksi kenakalan bahkan kriminalitas oleh remaja.

Terciptanya ruang komunikasi mampu memotong dampak negatif pergaulan. Menurutnya keluarga ada saringan utama bagi anak-anaknya. Komunikasi positif setidaknya mampu menjadi bekal dalam pergaulan keseharian anak hingga remaja.

“Peran keluarga itu paling penting, sementara kami (polisi) sifatnya pengayoman dan penindakan hukum dari sisi luar. Tidak sedikit aksi kenakalan remaja akibat komunikasi keluarga tidak lancar hingga keluarga yang tidak harmonis,” katanya.(dwi/pra/er)