Ibunda Tejaningrat, putri Pangeran Pekik dari Kadipaten Surabaya. Sebagai permaisuri utama, Ratu Pembayun mendapatkan gelar Ratu Kulon.

Tak sekadar dicopot, Tejaningrat yang terlahir dengan nama kecil Raden Mas (RM) Rahmat harus menjalani hukuman. Dia ditahan di Hutan Lipura. Lokasinya  di barat ibu kota Plered. Jaraknya sekitar 10 kilometer. Hutan Lipura saat ini berada di wilayah Kecamatan Bambanglipura, Bantul.

Di hutan itu pendiri Mataram Panembahan Senopati pernah bermunajat. Dia ingin membangun istana di  Hutan Lipura. Lokasi tempat permunajatan Senopati itu berupa belik atau danau. Saat ibu kota Mataram berpusat di Surakarta, Susuhunan Paku Buwono (PB)  II memerintahkan danau itu diurug. Kemudian menjadi daratan. Peristiwanya terjadi pada 1746.

Selanjutnya, didirikan bangunan untuk melestarikan tempat meditasi Senopati. Bangunan itu oleh Paku Buwono II diberi nama Patilasan Pasujudan Gilanglipura. Gilang artinya batu. Sedangkan lipura maknanya pelipur lara.

Dengan dicopotnya Tejaningrat, status putra mahkota Mataram menjadi komplang  alias lowong. Tidak butuh waktu lama, Amangkurat I langsung berpaling kepada adik Tejaningrat beda ibu. Namanya RM Drajad. Dia telah telah diwisuda menjadi Pangeran Poeger.

Sama seperti Tejaningrat, Poeger juga anak dari permaisuri Amangkurat I. Ibunya bernama Raden Ayu Wiratsari, putri Panembahan Rama dari Kajoran. Silsilah  leluhur Poeger berasal dari Tembayat, Klaten. Tempat Sunan Pandanaran, salah satu wali terkemuka di zaman Kerajaan Pajang. Poeger juga punya darah dari Ki Ageng Giring.

Ibunya semula berkedudukan sebagai Ratu Kulon. Dalam perjalanan waktu, posisi putri kelahiran Semarang itu digeser. Dia menjadi Ratu Wetan. Kini dengan diangkatnya Poeger, Ratu Wetan kembali ke kursi lamanya. Dia balik menjadi Ratu Kulon. Permaisuri utama raja.

Pengangkatan Poeger sebagai calon pewaris takhta Mataram itu disambut sukacita para pendukungnya. Khususnya dari ulama-ulama Tembayat. Kans trah Tembayat dan Giring berkuasa di Mataram terbuka luas. Berbagai ucapan selama diterima Poeger. Di kediamannya banyak terpampang karangan bunga. Pengirimnya dari lingkungan pejabat, pengusaha dan kawan-kawan sekolah Poeger. Ndalem Poegeran tampak ramai. Namun di sisi lain, kelompok Tembayat juga sibuk menggelar pertemuan. Mereka membahas skenario pascapengangkatan Poeger sebelum nantinya berkuasa di Mataram.

Pertemuan politik itu rupanya diketahui istana. Amangkurat I menilai tidak pada tempatnya suksesi dibahas saat dirinya masih sehat dan segar bugar. Kelompok Tembayat dianggap nggege mangsa.

Amangkurat I curiga. Berdasarkan jejak rekamnya Tembayat tak pernah akur dengan Mataram. Sejak ayahnya, Sultan Agung berkuasa, ulama-ulama Tembayat selalu bersikap kritis. Bahkan Amangkurat I pernah menindak mereka. Gara-garanya bersekongkol dengan Pangeran Alit hendak mengadakan kudeta. Pangeran Alit adalah adik kandung Amangkurat I.

Trauma dengan pengalaman itu, Amangkurat I akhirnya membatalkan pengangkatan Pangeran Poeger. Dia merehabilitasi dan mengangkat ulang Tejaningrat. Untuk kali kedua Tejaningrat menjadi calon penerus takhta. Bongkar pasang putra mahkota pun terjadi. (zam/by)