SLEMAN – Puskesmas Mlati II sudah saatnya direnovasi. Terletak di Dusun Cabakan, Sumberadi, Mlati, Puskesmas tersebut, bangunannya sudah ada sejak 1930-an. Dinas Kebudayaan Sleman diminta segera melakukan revitalisasi.

Kepala Puskesmas Mlati II, Veronika Evita Setianingrum menjelaskan, Puskesmas Mlati II telah mengajukan proposal. Yakni bantuan dari Dana Keistimewaan DIJ (Danais). Telah dipupayakan sejak 2017.

Sempat beberapa kali, ada Tim Ahli Cagar Budaya dari Kalasan datang untuk melihat Puskesmas Mlati II. Namun belum ada tindak lanjut. Karena menunggu Surat Keputusan (SK) Bupati Sleman untuk ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Anggaran untuk merawat bangunan Puskesmas Mlati II di atas tanah seluas 8.300 meter persegi dirasa sangat terbatas. Karena perawatan masih ditanggung pendapatan Puskesmas yang minim. Karena Puskesmas juga harus melaksanakan program kesehatan.

“Disbud Sleman membantu Rp 10 juta. Paling hanya bisa untuk mengecat gawang yang ada,” jelas Evita (7/7).

Dulunya, bangunan Puskesmas Mlati II dijadikan Rumah Sakit Pembantu Petronella atau kini dikenal RS Bethesda, Jogjakarta. Dibangun pada 1879 oleh keluarga Enger.

Selain memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di pelosok, Rumah Sakit Pembantu Petronella juga melayani kesehatan pekerja pabrik gula. Karena itulah, letak bangunan Puskesmas Mlati II tidak jauh dari Pabrik Gula Cebongan.

Dari segi bentuk bangunan, kata Evita, Puskesmas Mlati II terdiri dari bangunan induk dan dua bangunan tambahan. Dihubungkan dengan selasar dengan ciri bangunan indies atau bangunan gaya Belanda.

Langit-langit dan jendela tinggi. Beranda depan dan belakang, denah simetris, serta bangunan tambahan di samping kanan dan kiri bangunan induk.

“Rumah sakit pembantu ini sempat ditutup pada 1932. Lalu dibuka lagi 1935. Sesudah kemerdekaan, pengelolaan rumah sakit diserahkan kepada pemerintah dan ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya,” kata Evita.

Kepala Bidang Peninggalan Budaya dan Nilai Tradisi (PBNT) Disbud Sleman, Sumarjana menuturkan, penetapan Puskesmas Mlati II sebagai cagar budaya masih dalam proses SK Bupati. Dalam waktu dekat, Disbud Sleman akan megusulkan Puskesmas untuk mendapatkan penghargaan di tingkat Provinsi DIJ.

“Jika telah ditetapkan sebagai cagar budaya, upaya pengusulan rencana renovasi akan dilakukan,” ujar Sumarjana.

Kepala Unit Penyelamatan, Pengembangan dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIJ, Muhammad Taufik mengatakan, status bangunan Puskesmas Mlati II memang termasuk objek yang diduga cagar budaya. Dimana bangunannya telah memenuhi syarat untuk menjadi cagar budaya.

“Dan notabene, saat ini belum ditetapkan sebagai cagar budaya,” ucap Taufik.

Dari pendataan dan survei yang dilakukan, Puskesmas Mlati II pernah menjadi nominasi dan mendapatkan penghargaan pelestarian tahun 2017 dari BPCB DIJ. Dimana Puskesmas telah ada semasa dengan Pabrik Gula Cebongan. (cr7/iwa/fj)