Amangkurat I telah berusia lanjut. Dia telah berkuasa di Mataram lebih dari 32 tahun. Sejak beberapa tahun terakhir kesehatannya terus menurun. Pengendaliannya atas kekuasaan Mataram tidak lagi efektif.

Beberapa daerah di luar Jawa menyatakan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Kerajaan Mataram. Beberapa daerah itu seperti Jambi, Palembang, dan Kalimantan. Bahkan Cirebon yang sejak awal menjadi sekutu Mataram memilih tunduk di bawah VOC.

Situasi perekonomian Mataram juga sedang tidak bersahabat. Di beberapa wilayah terjadi gagal panen. Terjadi kemarau panjang. Wabah penyakit terjadi di mana-mana. Bersamaan dengan itu orang-orang Makassar mengadakan aksi demo di Jepara pada 1674. Mereka menuntut tanah untuk tempat tinggal. Namun Amangkurat I menolaknya.

Untuk meredam aksi anarkistis, anak buah Karaeng Galengsong itu ditampung oleh Pangeran Tejaningrat. Mereka diizinkan menetap di daerah Demung atau Besuki, Jawa Timur. Dengan kompensasi harus mendukung aksi people power yang dirancangnya bersama Raden Trunjaya di kediaman  Panembahan Rama di Kajoran, Klaten.

Aksi massa dengan menguasai pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur. Titik awalnya dari Pamekasan, Madura pada 1675. Dari Madura berlanjut Surabaya. Terus ke Tuban. Tak lama kemudian kota-kota besar di bawah Mataram jatuh ke tangan Trunajaya.

Dalam aksi itu mereka menyerukan  orang-orang Jawa agar mendukungnya. Mereka memakai simbol-simbol Islam. Seruan itu didukung Panembahan Giri dari Gresik. Tokoh panutan itu menyatakan, Mataram tak akan sejahtera selama VOC masih bercokol di Jawa.

Itu membangkitkan semangat anti-VOC sekaligus melawan Amangkurat I. Panembahan Giri juga mengecam kebijakan Amangkurat I yang kerap mengkriminalisasi para ulama. Militansi massa dari Surabaya, Madura, dan Makassar semakin kuat.

Melihat besarnya aksi massa itu membuat putra mahkota menghadapi dilema. Apalagi ayahnya memerintahkan agar dirinya menindak aksi Trunajaya itu. Terjadi bentrokan di daerah Gogodog, Tuban pada 1676. Bentrokan itu menyebabkan jatuhnya banyak korban. Salah satunya Pangeran Purbaya.

Dia merupakan pangeran sepuh, kakak Sultan Agung yang pernah menjadi panglima Tentara Nasional  Mataram. Awal 1677 semua pelabuhan, termasuk Cirebon jatuh ke tangan Trunajaya.

Kemenangan itu membuat rasa percaya diri Trunajaya meningkat. Dia dinobatkan pendukungnya menjadi panembahan. Dia mengklaim sebagai keturunan Majapahit. Trunajaya juga merasa berhak atas takhta Mataram.

Kondisi itu membuat hubungannya dengan putra mahkota menjadi renggang. Pecah kongsi terjadi sebelum tujuan melengserkan Amangkurat I terealisasi. Putra mahkota menilai Trunajaya keluar dari komitmen awal di Kajoran. Atas dasar itu putra mahkota balik mendukung ayahnya.

Setelah menguasai kota-kota di Jawa Timur, massa bergerak ke ibu kota Mataram. Istana Plered menjadi sasaran. Sekitar Mei 1677 istana Plered jatuh. Aksi people power itu berhasil menduduki ibu kota Mataram.

Pangeran Poeger dipasrahi Amangkurat I mempertahankan istana. Namun Poeger tak kuasa membendungnya. Pasukan Mataram berhasil dipukul mundur. Beberapa harta dan pusaka kerajaan dijarah. Trunajaya membawanya ke Jawa Timur. Pangeran Madura itu mendeklarasikan diri sebagai penguasa baru. Pusat kerajaannya berada di Kediri.(yog/rgbersambung)