Cahyo Santoso adalah generasi ketiga keluarga tukang khitan legendaris di Jogjakarta. Nama tempat praktiknya Bong Supit Pak Darmo. Beroperasi sejak 1930 dan masih eksis sampai sekarang.

HERY KURNIAWAN, Jogja

SUASANA rumah di Jalan Pesarean 04, Kotagede, Jogja siang itu cukup ramai. Banyak motor terparkir di halaman rumah tersebut. Akhir pekan lalu Jawa Pos Radar Jogja mengunjungi rumah Bong Supit Pak Darmo itu. Saat kaki menginjak ruang tamu rumah itu, suasana di dalamnya ternyata lebih ramai.

AHLI SUNAT: Foto Bangunan Bong Supit Pak Darmo di Jalan Pesarean 04, Kotagede, Jogja (HERY KURNIAWAN/RADAR JOGJA)

Puluhan anak usia SD dan SMP duduk dengan rapi di bangku masing-masing. Mereka didampingi para orang tua. Ada yang melamun, ada pula yang tampak ‘tegang’ menunggu giliran untuk dikhitan.

Ya, Bong Supit Pak Darmo adalah salah satu tempat khitan tradisional paling legendaris di Jogjakarta.

Meski ‘berlabel’ tradisional, jangan dikira kalau alat-alat dan proses khitannya juga dengan metode masa lalu. Justru sebaliknya.

Semua sudah menggunakan alat-alat modern. Diengan tangan-tangan cekatan yang profesional.

Bong supit itu sudah berdiri sejak 1930. Tahun ketika Indonesia masih dalam masa penjajahan Belanda. Sosok Pak Darmo sendiri saat ini tinggal kenangan. Dia meninggal pada 1997. Namun, praktik khitan tetap berjalan. Bong supit itu kini dikelola oleh Cahyo Santoso, salah seorang cucu Pak Darmo yang kini berusia 66 tahun. “Iya saya ini generasi ketiga,” ucap Cahyo dengan ramah kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Meski usianya telah senja, Cahyo masih mengkhitan pasien-pasiennya. Tangannya masih cekatan. Tak kalah dengan pengkhitan muda. Dia pun sangat bersemangat menjelaskan proses khitan dari masa ke masa.

Kata ‘bong supit’ ternyata memiliki arti tersendiri. Bong berarti pisau kecil yang biasa digunakan oleh tukang khitan zaman dahulu. Sedangkan supit adalah sebuah alat yang biasanya terbuat dari penjalin. Alat itu digunakan untuk membantu dalam proses pemotongan.

Berbeda dengan sekarang. Sudah ditemukan banyak obat khitan. Beda dengan dulu. Khitan zaman dahulu, kata dia, terasa begitu menyakitkan. “Dulu, obat biusnya itu anak-anak hanya disuruh berendam di air dingin selepas subuh,” kenang Cahyo. “Rasanya ya luar biasa,” lanjutnya bercanda.

Masa libur sekolah ibarat musim panen bagi para tukang khitan. Momen itu selalu ditunggu-tunggu. Seperti juga di Bong Supit Pak Darmo. Pada masa libur sekolah seperti saat ini bong supit itu bisa menkhitan lebih dari 60 anak setiap harinya.

Alhamdulillah, biasanya memang raminya pas liburan,” ujarnya.

Di Bong Supit Pak Darmo aspek ibadah lebih dikedepankan. Jadi bukan sekadar menjadi ajang bisnis. Terlebih mengingat khitan merupakan

kewajiban bagi setiap muslim laki-laki.

Karena itu, Cahyo pun kerap menggratiskan biaya bagi orang yang ingin khitan. “Terutama warga sini, gratis. Juga kalau ada mualaf atau orang tidak mampu juga gratis,” katanya.

Banyak pengalaman menarik saat Cahyo mengkhitan seorang anak. Pasiennya sembuh hanya dalam sehari. Cahyo mengaku sangat kagum dengan anak itu. “Padahal ketika disunat itu darahnya keluar banyak sekali. Tapi sehari kemudian langsung bisa lari. Luar biasa,” kenangnya.

Di akhir perbincangan, tak lupa Cahyo menitip saran bagi para orang tua yang hendak mengkhitankan anak. Menurutnya, umur paling tepat untuk berkhitan adalah 11 – 12 tahun. Karena pada usia itu anak-anak sudah siap secara fisik maupun mental. Dengan harapan, anak-anak yang datang dengan tersenyum, pulangnya tertawa. Sesuai tagline Bong Supit Pak Darmo. (yog/rg)