JOGJA – Kantor Wilayah (kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) DIJ bakal mengevaluasi mutasi masal. Apalagi, kebijakan mutasi besar-besaran baru kali ini di internal Kemenag.

”Akan kita lihat dan evaluasi. Jadi, sama sekali tidak ada tendensi yang namanya punhisment atau sanksi,” tegas Kepala Kanwil Kemenag DIJ Edhi Gunawan di kantornya Selasa (9/7).

Evaluasi itu sekaligus untuk melihat realisasi salah satu tujuan Kemenag. Edhi menegaskan, salah satu tujuan mutasi masal untuk mendekatkan guru dengan sekolah. Bahkan, Edhi menargetkan, jarak antara rumah guru dan sekolah idealnya maksimal 20 meter. Jarak menjadi salah satu standar Kemenag untuk menyejahterakan guru.

”Jadi, ada guru yang mengabdi lebih dari sepuluh tahun di sini (Kota Jogja, Red). Padahal, rumahnya di Gunungkidul,” ucapnya.

Terlepas dari itu, Edhi tak menampik bahwa mutasi masal merupakan tindak lanjut hasil audit Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemenag. Berdasar hasil audit, pegawai di lingkungan Kemenag bertugas di satu madrasah maksimal tujuh tahun. Dengan begitu, guru bisa lebih produktif ketika dimutasi.

”Dalam rangka penyegaran,” ujarnya.

Nah, rekomendasi ini sejalan dengan semangat kanwil yang ingin memajukan madrasah. Jadi, Kanwil Kemenag DIJ memanfaatkan momentum tahun ajaran baru untuk melakukan mutasi besar-besaran. Sekaligus penataan sumber daya manusia guru. Lantaran jamak madrasah yang kekurangan guru. Di sisi lain, Kemenag pada 2018 mendapatkan tambahan formasi CPNS 304 orang. Sebanyak 292 orang atau 95 persen di antaranya merupakan formasi guru.

”Mutasi juga berdasar laporan masing-masing kepala sekolah perihal kekurangan atau kelebihan guru,” katanya.

Meski ada fakta dua guru mengampu satu mata pelajaran, Edhi berdalih mutasi sesuai dengan kebutuhan. Kemenag sudah mempersiapkan mutasi sebelum tahun ajaran baru bergulir. Sebab, jumlah guru yang dimutasi mencapai 475 orang. Perinciannya, 97 di tingkat MI, 243 guru MTs, dan 135 dari MA.

”Harapannya (dengan mutasi) madrasah akan lebih dinamis. Pelayanannya juga meningkat,” tuturnya.

Di lingkungan Kemenag, Edhi mengakui mutasi bukan kebijakan familiar. Kendati begitu, Edhi berjanji bakal kembali melakukan rotasi. Hanya, persentasenya kecil. Hanya sekitar 20 persen dari guru dan pegawai di lingkungan Kemenag.

”Agar jangan sampai justru kebersamaan yang telah dibangun selama ini terusik,” tambahnya. (cr15/zam/rg)