JOGJA – Halaman Kantor Dinas Pariwisata (Dispar) serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Jogja, di Jalan Suroto Kotabaru diwacanakan menjadi lokasi creative space. Konsep tempat ini menggabungkan co working space dan public space.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menyebut creative space tersebut fokusnya untuk memfasilitasi insan kreatif Jogjakarta. Selain itu juga sebagai ajang srawung berbagai komunitas. Termasuk mempertemukan para insan kreatif dengan pemerintah. “Sebenarnya mereka (pelaku industri kreatif) sudah berjalan. Tapi jika berjalan bersama tentu lebih bagus,” ujar HP ditemui usai Workshop Pembinaan dan Pengembangan Ekonomi Kreatif di Tara Hotel Selasa (9/7).

Kolaborasi tersebut memiliki alur yang berbeda. Tidak lagi hadir menghadiri seminar namun ada diskusi aktif. Tujuannya untuk mempertemukan ide para pelaku industry kreatif dengan kebijakan pemerintah. Termasuk memayungi ekonomi kreatif dalam aturan baku pemerintah. “Pertemuan ini jadi ajang saling membuka diri. Kira-kira apa yang bisa dilakukan Pemkot Jogja untuk mengembangkan industri kreatif. Goal-nya adalah industri tersebut jadi penyokong kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Creative space juga menjadi upaya pemetaan. Ini karena potensi tidak hanya didominasi satu sektor. Dinas Pariwisata Kota Jogja memetakan setidaknya ada 16 sub sektor industri kreatif. Mulai dari potensi kuliner, kerajinan tangan, fashion, seni hingga potensi teknologi informasi.

“Seperti pengembangan software dan game itu sangat potensial sekali. Saat ini semua  sudah tertata maka akan menciptakan ekosistem. Tidak menutup kemungkinan adanya kolaborasi antar potensi dan menciptakan ide baru,” ujarnya.

Kabid Atraksi Wisata dan Ekonomi Kreatif Dispar Jogja Edi Sugiharto menuturkan adanya konsep terintegrasi. Kolaborasi bersama Dispusip dan pelaku ekonomi kreatif setempat. Ruang publik akan menjadi satu dengan area kantor Dispusip. Ada kemungkinan sekat diantara dua instansi ini dibuka. Termasuk meruntuhkan tembok depan milik Dispar Kota Jogja.

“Kami namakan Suroto Public Space. Konsepnya menghidupkan interaksi komunitas, kampung, korporat, kampus dan pemerintah kota. Intensitas forum group discussion untuk melahirkan sebuah ide,” jelasnya. (dwi/pra/er)