Bencana bisa terjadi kapan saja. Peristiwa itu tak selalu didahului tanda-tanda alam. Keberadaan alat deteksi bencana menjadi suatu keharusan. Demi meminimalisasi korban maupun kerugian.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

TSUNAMI masih menjadi salah satu ancaman di sebagian wilayah Indonesia. Apalagi letak kepulauan Indonesia diapit tiga lempeng utama paling aktif di dunia. Yaitu Eurasia, Indoaustralia, dan Pasifik. Itulah mengapa Indonesia termasuk negara rawan gempa bumi yang berpotensi tsunami. Belum lagi banyaknya gunung api aktif. Sehingga Indonesia juga termasuk dalam ring of fire. Yaitu zona di mana terdapat banyak aktivitas seismik busur vulkanik dan palung.

Gempa dan tsunami biasanya tak berjeda lama. Karena itu, perlu adanya peringatan dini tsunami. Guna memberi ruang waktu bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri.

Itulah yang mendorong Riza Atika, mahasiswa Prodi Pendidikan Teknik Mekatronika, Fakultas Teknik Uiversitas Negeri Yogyakarta (UNY) merancang automatic tsunami early warning system (ATEWS). Alat ini tersinkronisasi dengan stasiun pemantau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan terhubung ke pengeras suara di tempat-tempat ibadah.

Merancang alat itu Riza tak sendirian. Gadis berparas ayu itu didukung dua karibnya. Anung Endra Raditya dan Rohsan Nur Marjianto.

ATEWS: Alat Deteksi Tsunami karya Mahasiswa UNY (DOK PRIBADI)

ATEWS dirancang bermodalkan data yang diunduh dari alamat website resmi BMKG sebagai informasi valid. Data tersebut diperlukan agar informasi yang didapatkan bisa akurat.

Data itu diunduh dengan mini PC, kemudian diolah. Dari data tersebut akan memunculkan lokasi yang akan terdampak tsunami. “Bila data lokasi sesuai dengan kawasan yang akan terdampak tsunami, maka data dikirim lewat pesan singkat,” jelasnya. “Lalu pengeras suara tempat ibadah otomatis berbunyi,” lanjut mahasiswi angkatan 2018 itu.

Bisa memberikan informasi yang akurat dan cepat dapat menyelamatkan banyak nyawa. Itulah semangat yang dibangun Riza dan sejawatnya itu. Apalagi dalam beberapa tahun belakangan Indonesia berkali-kali diguncang gempa dan tsunami.

Sementara sejauh ini penyampaian informasi tsunami harus melewati banyak instansi terkait. Hanya untuk menyalakan sirene.

Riza ingin memangkas ‘birokrasi’ itu. Dia lantas berpikir untuk membuat alat yang murah dan dapat dijangkau berbagai segmen masyarakat.

Pengeras suara pada tempat ibadah dipilih karena lokasinya tidak hanya berada di pinggir pantai. Namun hampir di setiap tempat.

Atas dasar hal tersebut Riza berasumsi bahwa tempat ibadah menjadi objek yang dekat dan selalu berada ditengah-tengah masyarakat. “Ini akan mudah dalam menyampaikan informasi,” katanya.

Perangkat ATEWS cukup simpel. Hanya berupa multimeter, tool set, dan hand tool. Bahan-bahan yang digunakan juga mudah dicari. Wadahnya menggunakan bahan utama akrilik setebal 5 mm. Untuk melindungi komponen elektronik di dalamnya.

Sedangkan komponen elekroniknya berupa Raspberry Pi 3 Model B yang dimanfaatkan sebagai server pengolah data terkini gempa bumi. Server itu dilengkapi layar capasitive touch screen sebesar 6 inci sebagai media bantu memantau kondisi server saat bekerja.

Tidak kalah penting yaitu modul GSM. Modul ini sebagai media pengirim data hasil pengolahan ke sistem alarm. Ada pula arduino uno untuk mengolah kembali data yang dikirimkan server. Sebagai parameter menyalakan alarm.

Untuk menampilkan peringatan tsunami digunakan modul dot matrix sebagai peringatan melalui media visual. Speaker alarm sebagai peringatan melalui media audio. Sementara untuk catu daya digunakan power supply 12V 5A sebagai sumber utama. Serta modul step-down DC-DC untuk membagi tegangan ke komponen-komponen elektronik lainnya. “Sistem alat deteksi dini tsunami ini berfungsi sebagai pengolah data informasi gempa dari pusat data BMKG. Data itu dapat diakses secara bebas oleh masyarakat,” paparnya.

Data diolah dengan metode HTTP request ke server BMKG secara berkala. Data akan direspons oleh server BMKG dengan mengirimkan data format XML yang berisi informasi gempa terkini.

Data yang diterima tersebut kemudian diolah dengan mencocokkan lokasi gempa dengan tempat di mana alat pengendali sistem peringatan berada. “Bila datanya tepat, maka akan dikirimkan pesan peringatan dan informasi gempa ke lokasi pasca gempa melalui SMS,” jelas Riza.

Data itu masih akan dicek kebenarannya oleh alat pengendali sistem peringatan. Jika akurat, maka sistem yang telah dirancang akan langsung mengaktifkan alarm pada pengeras suara di tempat-tempat ibadah. Dan ada tampilan visual informasi gempa melalui layar dot matrix.

Alat ini akan selalu memperbaharui data kejadian gempa secara berkala setiap lima menit sekali. Sedangkan informasi gempa yang dirilis BMKG selalu diperbaharui kurang dari sepuluh menit. Menurut Riza, data tersebut cukup realtime untuk memantau kejadian gempa di seluruh Indonesia.(yog/rg)