SLEMAN – Di zaman industry 4.0 ini, banyak orang memanfaatkan media sosial untuk berjualan. Termasuk untuk menjual minuman beralkohol (mihol). Karena tidak mengantongi izin, RD, ditangkap polisi karena menjual mihol online.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda DIJ menangkap RD, produsen dan pengedar mihol oplosan. Tidak memiliki izin edar. Usaha tersebut sudah berjalan lima bulan. Omzetnya puluhan juta rupiah.

Dir Reskrimsus Polda DIJ, Kombes Pol Y. Toni Surya Putra mengatakan, polisi berhasil mengamankan uang Rp 19,8 juta hasil penjualan mihol online. Selama lima bulan berjualan, pelaku bernama Randi Dianto (RD), 30 tahun, warga Samirono, Depok, Sleman, telah memproduksi ratusan botol mihol oplosan.

“Pelaku telah memalsukan mihol. Seakan-akan asli dari luar (negeri). Kasih segel dan label. Untuk meyakinkan konsumen,” kata Toni di Mapolda DIJ (11/7).

Kendati baru lima bulan, usaha RD tersebut cukup dikenal. Karena menjual lewat Facebook dan Instagram. Ada yang dikirim menggunakan jasa ekspedisi.

“Konon katanya, rasanya enak. Ada asam-asamnya. Artinya ini (mihol) disukai konsumen,” kata Toni.

Saat ini, polisi masih mendalami kasus tersebut. Diduga, mihol tersebut juga beredar di daerah lain. “Karena online, kemungkinan tidak hanya dijual di Jogja. Kami masih melakukan investigasi,” kata Toni.

RD tertangkap saat melakukan transaksi. Di dekat Monumen Jogja Kembali. “Minuman yang diproduksi oplosan. Sangat berbahaya,” kata Toni.

Dari pengakuan RD, bisa meracik mihol dari nonton video di internet. Kemudian menjiplak komposisi yang tertera. “Menyamakan rasa,” kata RD.

Dalam sehari, dia mampu membuat 30 botol mihol oplosan. Masing-masing satu liter. Dijual Rp 160 ribu per botol.

RD meracik mihol dari Pure Grain Alcohol (PGA), lemon, air mineral, dan gula pasir. Semuanya dicampur, dikemas, dan diedarkan.

Perbuatan RD termasuk pelanggaran izin edar dan bukan pemalsuan merk. Sebab, jika termasuk pemalsuan, harus ada delik aduan dari pemegang merk.

Tersangka dikenai Pasal 142 UU 18/2012 tentang Pangan dan Pasal 204 ayat 1 KUHP. Menjual barang berbahaya bagi kesehatan. (har/iwa/fj)