Elite-elite Mataram tak menduga ibu kota Plered bisa jatuh secepat itu. Tanda-tanda kejatuhan diawali dengan bobolnya pintu gerbang Mataram di luar kota. Gerbang pertama yang dikuasai musuh berada di daerah Pingit, Tegalrejo.

Massa Trunajaya menyerbu dari arah Semarang. Terjadi bentrokan hebat. Massa gabungan Laskar Madura dan Makasar sukses memukul mundur pasukan Mataram. Mereka kemudian merangsek ke Gerbang Waja di Sewon, Bantul. Dari Waja, berlanjut ke pusat kota Plered.

Berikutnya Gerbang Trayem. Letaknya di dalam kota. Jatuhnya Gerbang Trayem mempercepat aksi massa menguasai istana. Gapura lainnya di Taji, Prambanan. Massa bergerak dari Kajoran, Klaten. Massa dipimpin Panembahan Rama. Dari Taji, massa  menuju Gerbang Kaliajir di Berbah, Sleman.

Dengan jatuhnya gerbang-gerbang tersebut, praktis ibu kota Plered tak lagi di bawah kendali pasukan Mataram. Upaya Pangeran Poeger mempertahankan istana tak berhasil. Poeger akhirnya menyingkir ke luar Kota Plered.

Poeger merupakan satu-satunya pejabat sekaligus putra raja yang masih tersisa di istana. Sebab, saat aksi people power pada Juli 1677, Susuhunan Amangkurat I bersama sebagian besar pejabat Mataram tengah kunjungan kerja (kunker) ke Banyumas. Ikut mendampingi dalam kunker itu putra mahkota, Pangeran Tejaningrat.

Amangkurat I punya tradisi tedhak. Atau berkunjung ke daerah kabupaten bawahan Mataram. Kunker diadakan sejak 28 Juni 1677. Tak ada bayangan di benak Amangkurat I istana Plered diserang musuh.

Selama kunker, atribut, lambang kebesaran dan pusaka-pusaka kerajaan ikut dibawa. Antara lain, tombak Kanjeng Kyai Ageng (KKA) Pleret dan keris KKA Mahesanular. Dua pusaka itu tak boleh jauh-jauh dari Sunan.

Kunker dilakukan dalam rangka meninjau beberapa proyek infrastruktur. Khususnya pembangunan ruas jalan Plered, Begelan, hingga Banyumas. Setelah sukses membangun istana Plered, Amangkurat I rajin membangun infrastruktur. Terutama yang mendukung sentra-sentra produk pertanian, perkebunan, dan makanan. Daerah Begelen hingga Banyumas dikenal tanahnya subur.

Amangkurat I juga hendak meninjau pembangunan tata kota. Jarak satu kota ke kota lain di Mataram diatur. Rata-rata jaraknya 30 kilometer. Jejak rintisan Amangkurat I itu bisa dirasakan hingga sekarang. Khususnya kota-kota di Jawa.

Tiga hari menempuh perjalanan, rombongan sampai di Bocor, Kedu pada 1 Juli 1677. Sehari kemudian, Sunan mendapatkan kunjungan bupati Kebumen. Kemudian pada 5 Juli 1677, acara dilanjutkan ke Cilacap. Amangkurat I membuka rapat kerja asosiasi bupati-bupati se-Banyumas. Di tempat ini, Sunan mendapatkan laporan perkembangan pembangunan pelabuhan Tegal dari Bupati Tegal Martalaya. Selain infrastruktur dan tata kota, Amangkurat I juga meletakkan dasar-dasar pembangunan maritim.

Mataram membangun poros maritim berhubungan dengan Palembang dan Malaka. Karena itu, istana Plered juga sering disebut Segarayasa. Istana yang dilengkapi dengan danau buatan. Tujuannya melatih perang angkatan laut Mataram.

Rencananya, dari Cilacap, diteruskan meninjau pelabuhan Tegal. Sunan dan rombongan juga akan mengunjungi pelabuhan Jepara. Di Jepara, raja bakal menandatangani sejumlah kerja sama dagang dengan VOC. Kerja sama itu sebagai tindak lanjut kesediaan VOC mengakui kekuasaan Amangkurat I pada 1646.

Belum lagi agenda itu terlaksana, Sunan dikejutkan dengan kedatangan Pangeran Poeger. Dia ikut menyusul ke Banyumas. Poeger melaporkan kondisi terakhir ibu kota Mataram.

Saat itu Amangkurat I tengah beristirahat di pesanggrahan Desa Lesmana, Ajibarang, Banyumas. Sunan beristirahat selama empat hari. Yakni dari 6-10 Juli 1677. Laporan Poeger cukup menganggu pikiran Sunan yang sudah sepuh. Kesehatannya langsung drop. Tak lama kemudian kondisinya kritis. Sebelum wafat, Amangkurat I memberikan wejangan luhur kepada pengikutnya.

Dia meninggalkan wasiat  agar dikebumikan di Desa Pakuncen, Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Prosesi pemakaman dilakukan dengan upacara kebesaran pada 13 Juli 1677. Bertindak sebagai inspektur upacara Bupati Tegal Martalaya. (zam/rg/bersambung)