BANTUL – Petani di Dusun Kedon, Bambanglipuro, melakukan gropyokan tikus Kamis (11/7). Mereka kesal dengan serangan tikus yang memakan padi yang mereka tanam.

Ketua Kelompok Petani Mandiri, Dusun Kedon, Suwanto mengatakan, serangan tikus cukup banyak. Tujuh hektare lahan diserang tikus.

‘’Seumpama keuntungan kami Rp 1.000.000, karena serangan tikus, keuntungan tinggal Rp 700.000,” ujar Suwanto (11/7).

Dikatakan, serangan tikus merata. Karena hampir tiap petak ditemukan bekas serangan tikus. Berupa padi yang dirusak dan adanya sarang tikus.

Serangan tikus selalu terjadi di sana dan belum ada solusinya. Populasi tikus sangat banyak dan sulit ditekan. “Habis digropyok memang berkurang. Tapi tikus terus ada lagi,” kata Suwanto.

Serangan tikus lebih merugikan dibandingkan serangan burung pipit dan walang sangit. Salah satu penanggulangan tikus dengan gropyokan.

Petani melakukan gropyokan tikus dengan pengasapan. Asap dimasukkan lubang tikus. Menyebabkan tikus mati.

Petugas Penyuluh, Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Penelitian Tanaman Pangan (UPTD BPTP) DIJ, Rumiyati mengatakan, sekitar lima hektare sawah terserang tikus. Pihaknya merekomendasi gropyokan. ‘’Semoga tikus bisa dikurangi,” kata Rumiyati.

Selain gropyokan, Rumiyati menyarankan langkah sanitasi. Yakni membersihkan lingkungan sekitar sawah yang biasa digunakan tikus bersarang.

Pihaknya mengupayakan solusi jangka panjang pemberantasan hama tikus. Caranya, mendatangkan predator alami tikus.

“Kami coba upayakan penyediaan rumah burung hantu (Rubuha). Di Sedayu, cara tersebut cukup efektif menekan tikus,” ujar Rumiyati. (cr5/iwa/fj)