SLEMAN – Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) memiliki rumah sulit terealisasi. Walaupun pemerintah telah menggulirkan program rumah bersubsidi. Namun, jumlahnya belum bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan rumah.

Pemerintah pun membangun rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) sebagai solusi. Menjawab kebutuhan masyarakat akan hunian. Di Sleman, terdapat lima rusunawa. Dua di Gemawang, masing-masing satu di Dabag, Mranggen, dan Jongke. Mayoritas penghuni adalah pasangan muda.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rusunawa Sleman, Panut Suharto mengatakan, dari lima rusunawa di Sleman, belum semua dipasarkan. Sebab, masih ada pengembangan rusunawa terkait fasilitas hunian. Kemungkinan akhir tahun 2019 baru bisa dipasarkan.

“Satu rusunawa di Gemawang belum dipasarkan. Masih ada penambahan lahan parkir, sarpras (sarana prasarana) di sekitar (rusunawa) belum mendukung,” ujar Panut (12/7).

Tingkat keterhunian di empat rusunawa tersebut, kata Panut, sudah mencapai 99 persen. Yaitu dari 1.057 unit ada 1.020 unit yang terisi. Kendati demikian, ada 400 orang yang mengantre untuk bisa menempati rusunawa.

“Antrean untuk bisa masuk di Dabag ada 250 antrean, Gemawang sekitar 50 orang, Jongke 50 orang. Kalau ditotal sekitar 400 orang,” kata Panut.

Menurut dia, mayoritas yang menghuni rusunawa adalah pasangan muda. Sebab, dengan penghasilan yang masih pas-pasan, mereka kesulitan mendapatkan hunian.

“Saya rasa, masih banyak masyarakat di Sleman belum memiliki rumah. Kebanyakan pasangan baru. Mungkin karena ingin punya rumah sendiri, 40 persen pasangan muda,” jelas Panut.

Selain itu, faktor murahnya harga sewa juga berpengaruh terhadap membludaknya peminat. Per bulan Rp 160 ribu hingga Rp 417 ribu. Apalagi jangka waktu sewa rusunawa bisa diperpanjang hingga lima tahun. Atau maksimal enam tahun. Syaratnya ber-KTP Sleman, termasuk kategori MBR, dan sudah berkeluarga.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Sapto Winarno tidak memungkiri membludaknya peminat rusunawa. Namun pihaknya belum berencana menambah rusunawa.

“Belum ada (rencana pengembangan rusunawa) dalam waktu dekat. Kami masih menunggu koordinasi dengan kementerian,” kata Sapto.

Keterbatasan lahan juga menjadi kendala. Sehingga pihaknya juga masih mencari solusi terbaik untuk permasalahan tersebut. Sebab, ada beragam solusi untuk bisa menyediakan hunian murah bagi masyarakat. “Kami juga tengah mengembangkan rumah bersubsidi,” katanya.

Terkait kondisi rusunawa di Sleman, Sapto mengklaim setiap tahun terus diperhatikan. Untuk 2019, pihaknya segera memasang meteran listrik untuk masing-masing kamar.

“Tahun depan kami memang belum membangun, tapi kalau pengembangan, tetap kami lakukan,” tegas Sapto. (har/iwa/fj)