MENGETAHUI Istana Plered diduduki musuh, Susuhunan Amangkurat I tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Sunan segera mengumpulkan para pejabat Mataram. Ikut hadir pepatih dalem, Bupati Tegal Martalaya, Bupati Kebumen Arung Binang, dan sejumlah pejabat teras Mataram lainnya. Tampak pula putra mahkota Pangeran Tejaningrat dan adiknya, Pangeran Poeger. Keduanya merupakan anak raja paling senior di antara beberapa putra Amangkurat I lainnya.

Sunan memberikan arahan. Pertama, Istana Mataram harus direbut kembali.  Trunajaya tak boleh dibiarkan menguasai Plered terlalu lama. Kedua, aksi massa Trunajaya harus dibendung agar tidak meluas ke arah barat.  Khususnya mengarah ke Banyumas yang masih dikuasai Sunan.

Ketiga, tindakan Trunajaya bersama pendukungnya merupakan makar. Menggulingkan pemerintahan yang sah.  Kudeta itu harus secepatnya ditindak. Demikian arahan Sunan.

Keempat, pemerintahan Mataram sementara waktu dikendalikan dari Desa Lesmana, Ajibarang, Banyumas. Di tempat ini Sunan punya pesanggrahan. Setiap kali Sunan berkunjung ke Tegal selalu singgah di Desa Lesmana. Amangkurat I membangun pesanggrahan di desa tersebut.

Kelima, Sunan memutuskan mengeluarkan sabdaraja (perintah raja, Red).  Isinya memerintahkan putra mahkota merebut kembali Istana Plered. Di luar dugaan, putra mahkota  menolak perintah itu. Dia enggan memerangi Trunajaya. Pangeran Tejaningrat beralasan ingin terus mendampingi Sunan yang mulai sakit-sakitan.

Penolakan putra mahkota itu agaknya punya alasan terselubung. Ada konflik kepentingan di balik sikap itu. Putra mahkota sebenarnya ada di balik aksi people power 1677. Dia merancangnya dalam satu permufakatan di kediaman Panembahan Rama, Kajoran. Di tempat itulah Tejaningrat bertemu dengan Trunajaya. Karena itu, tak mungkin putra mahkota langsung balik badan. Menggebuk mantan sekutu politiknya secara terbuka sama saja bunuh diri. Dia berhitung. Risikonya terlalu besar. Lebih balik menghindar.

Lantaran putra mahkota menolak, Amangkurat I kemudian berpaling kepada Poeger. Saat menerima perintah itu, Poeger tidak banyak mengumbar alasan. Dia langsung menyanggupi. Amangkurat I merasa bangga akan ketegasan Poeger itu.

Mandat merebut kembali Istana Mataram sekarang ada di pundak Poeger. Sunan menyerahkan dua pusaka penting Mataram kepada Poeger. Pertama, tombak Kanjeng Kyai Ageng (KKA) Pleret. Kedua, keris KKA Mahesanular. Kans putra mahkota sebagai pewaris takhta tergantikan oleh Poeger.

Dengan penyerahan pusaka itu, Poeger telah ditunjuk menjadi pengganti Sunan. Penyerahan dua pusaka itu simbol terjadinya suksesi. Berbekal mandat itu, Poeger langsung pamit. Dia meminta izin konsolidasi. Kekuatan pasukan Mataram dikumbulkan. Selanjutnya Poeger bergerak ke ibu kota Plered.

Belum lagi sampai ke tujuan, Poeger menerima kabar ayahnya wafat. Tak ingin takhta kosong, Poeger mendeklarasikan diri menjadi raja Mataram yang baru. Gelarnya Susuhunan Abdurrahman Ing Ngalaga. Lokasi jumenengan (penobatan) berlangsung di Jenar, Purworejo. Poeger kemudian dikenal dengan sebutan Susuhunan ing Kajenar atau Sunan Kajenar. Bersamaan dengan itu Poeger juga membentuk pemerintahan darurat Mataram berkedudukan di Jenar. Untuk sementara waktu, Jenar menjadi ibu kota perjuangan.(yog/rg/bersambung)