JOGJA – Wakil Ketua Komisi I DPR RI Ahmad Hanafi Rais kembali mengajak masyarakat selektif  menggunakan sarana media sosial (medsos). Dia menilai penggunaan medsos punya nilai plus dan minus di masyarakat.

“Karena itu kita harus lebih kritis,” ajak Hanafi saat membuka seminar Merajut Nusantara bertema Mengatasi Kesenjangan Digital melalui Pemanfaatan Media Sosial dalam Rangka Sosialisasi Redesain Uso di Hotel Grand Quality Jalan Solo, Sleman, Sabtu (13/7).

Salah satu sikap kritis itu dengan membudayakan diet menggunakan medsos. Diet itu diperlukan karena informasi di medsos cenderung sulit dikontrol. Masyarakat bukan lagi sekadar banjir informasi. “ Tapi medsos telah menimbulkan tsunami informasi,” katanya.

Tentang diet medsos itu dapat dilakukan dengan memperbanyak pertemuan riil. Interaksi harus dibangun secara nyata dan bukan sekadar di dunia maya. Pertemuan riil akan mempererat tali silaturahmi. “Contohnya seperti acara hari ini. Bapak dan ibu serta saudara-saudara bisa bertemu dan bertatap muka langsung,” lanjutnya.

Hanafi mengakui, fenomena medsos sebagai bentuk kritik terhadap media arus utama. Selama ini media arus utama seperti TV diyakini masyarakat menyampaikan informasi yang benar, akurat, dan objektif.

Namun dalam perkembangannya justru kebalikannya. Ada stasiun televisi yang memanfaatkan frekuensi publik demi kepentingan politik pemilik medianya. Kondisi itulah yang kemudian membuat masyarakat berpaling ke medsos. Maraknya  medsos sebagai dampak pemanfaatan media internet.  “Internet itu bisa menyatukan, namun juga bisa memecah belah tatanan,” ingatnya.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Gugun Gunadi menilai, kebutuhan primer masyarakat tidak lagi terbatas pangan, sandang, dan papan. Dewasa ini bertambah dengan kebutuhan informasi.  “Informasi sekarang menjadi kebutuhan pokok. Masyarakat tidak dapat lepas dari kebutuhan ini,” ujar Gugun.

Di era informasi, masyarakat juga melakukan transformasi. Dari konvensional ke digital. Beberapa contoh bisa diambil. Misalnya pelaksanaan ujian siswa sekolah. Dulu siswa mengerjakan ujian dengan pensil, pulpen, dan kertas. Sekarang telah berubah. Pengerjaan soal dengan sistem ujian nasional berbasis komputer (UNBK).

Contoh lain terjadi di bidang transportasi. Masyarakat sekarang telah terbiasa memakai jasa ojek atau taksi dengan sistem darling. “Ojek online bisa kita temukan di mana-mana,” lanjutnya.

Sedangkan pembicara ketiga Nazaruddin meminta pemerintah serius mengatasi kesenjangan penggunaan jaringan internet yang terjadi di masyarakat. Sebab, pemanfaatan internet belum cukup merata. Tantangan bagi pemerintah meminimalkan kesenjangan itu.

“Pemanfaatan internet harus merata bagi seluruh komponen bangsa. Jangan lagi ada gap antarwilayah,” desaknya. (*/kus/laz/er)