Pangeran Tejaningrat berubah pikiran. Usai pemakaman ayahandanya, Susuhunan Amangkurat I di Desa Pesarean, Adiwerna, Kabupaten Tegal, putra mahkota Mataram itu membatalkan niatnya pergi haji.

Dia memutuskan untuk melanjutkan takhta ayahnya. Alasannya, Tejaningrat mengaku mendapatkan wangsit. Dia bercerita kepada Bupati Tegal Martalaya soal wangsit tersebut. Putra mahkota mengklaim memperoleh bisikan gaib dari leluhur Mataram. Isinya memerintahkan agar dirinya naik takhta. Melanjutkan takhta yang ditinggalkan ayahnya.

Namun Tejaningrat menghadapi problem. Sebagai raja, dia tengah berada di pengasingan. Istana Mataram di Plered baru saja jatuh ke tangan musuh. Pembesar-pembesar kerajaan di pedalaman sekarang berada di belakang adiknya, Pangeran Poeger.

Bahkan sang adik diketahui lebih dulu jumeneng (bertakhta) menjadi raja. Gelarnya Susuhunan Abdurrahman Ing Ngalaga. Poeger telah berhasil merebut kembali istana Plered.

Di pihak lain, Mataram masih menghadapi musuh berat. Yakni Trunajaya. Mantan sekutu politiknya telah mendeklarasikan diri menjadi raja Jawa. Bergelar Panembahan Maduratna atau Maduretno. Kerajaannya berpusat di Kediri.

Penobatan menjadi raja dilakukan usai Trunajaya sukses memimpin gerakan people power merebut istana Plered. Bagi putra mahkota, Trunajaya menjadi klilip yang menggangu rencananya jumeneng menjadi raja.

Dalam posisi terjepit, putra mahkota teringat satu-satunya cara untuk melapangkan jalannya menuju takhta Mataram adalah mencari dukungan pemodal asing. Mitra kerja yang bisa diajak berembug mewujudkan cita-citanya adalah VOC.

Kongsi dagang Belanda itu dinilai punya kemampuan membantunya. VOC punya pasukan dan didukung persenjataan lengkap. Karena itulah, Tejaningrat mengajak sahabatnya Bupati Martalaya pergi ke Jepara.

Mereka mendatangi benteng VOC di kota ukir tersebut. Hubungan antara putra mahkota dengan Kompeni bukan hal baru. Beberapa tahun sebelum kejatuhan istana Plered, putra mahkota sering berkomunikasi dengan VOC.

Pertemuan Jepara itu membuahkan hasil. Memasuki September 1677, putra mahkota menandatangani perjanjian. VOC diwakili Cornelis Speelman. Isinya, pesisir utara Jawa mulai Kerawang hingga Panarukan digadaikan ke VOC. Itu sebagai jaminan pembayaran biaya perang menumpas Trunajaya.

Putra mahkota akhirnya dinobatkan sebagai raja Mataram. Penobatan berlangsung di atas kapal VOC. Tidak seperti para pendahulunya, pengukuhan Tejaningrat tidak memakai busana lazimnya raja-raja Mataram. Dia memakai busana militer Belanda berpangkat admiral atau laksamana. Gelar yang dipilih adalah Susuhunan Amangkurat II. Atau Sunan Amangkurat Amral. Saat penobatan itu, Amangkurat II tidak punya istana. Dia berniat membangun istana baru. Penobatannya tidak disaksikan para pejabat Mataram. Satu-satunya yang menyaksikan peristiwa bersejarah itu hanya Martalaya. Bupati Tegal itu dengan setia mendampingi.

Lantaran belum punya istana, Amangkurat II untuk sementara waktu berkantor di kediaman bupati Tegal. Dia mengadakan konsolidasi. Mengumpulkan bupati-bupati di wilayah pesisir. Dari kantor bupati Tegal itu, Sunan bersama VOC merencanakan operasi militer. Sasarannya Kediri yang menjadi markas Trunajaya.

Dengan penobatan Amangkurat II itu, Mataram memiliki raja kembar. Dua anak Amangkurat I yang lahir dari dua permaisuri sama-sama mengklaim sebagai pewaris takhta. Tejaningrat sebagai Amangkurat II berkantor di Tegal dan Poeger menjadi Susuhunan Ing Ngalaga berada di Plered. Mataram menghadapi ancaman perang suksesi. (zam/by)