JOGJA – Kini jika berwisata ke destinasi utama di Kota Jogja, Malioboro, punya pilihan obyek wisata lain. Tak hanya ke Keraton, Taman Pintar Beteng Vredeburg, atau Pasar Beringharjo. Tapi juga bisa mengunjungi Gedung Istana Negara Jogjakarta atau warga Jogja sering menyebutnya Gedung Agung.

Gedung Agung yang berada di ujung Jalan Malioboro itu tak hanya menjadi tempat tinggal Presiden dan Wakil Presiden RI saat berkunjung ke Jogja. Di dalamnya juga banyak koleksi lukisan, patung hingga bisa belajar sejarah. Masyarakat umum pun bisa berwisata edukasi ke Gedung Agung.

Wali Kota Haryadi Suyuti bersama Wakil Wali Kota Heroe Poerwadi dan jajaran pejabat Pemkot Jogja termasuk yang sudah berkunjung ke sana rabu lalu (10/7). HS menyebut dengan mengunjungi dan berkeliling di Gedung Agung, banyak pengetahuan baru. “Cocok untuk wisata edukasi,” katanya.

Kepala Istana Negara Gedung Agung Jogjakarta, Syaifullah, mengatakan, wisata ke Istana Kepresidenan Jogjakarta itu sebenarnya sudah dibuka untuk umum sejak 1998. “Tapi dulu pakai surat prosedural terlebih kalau mau masuk. Sekarang sudah terbuka untuk umum sejak 2014 tidak pakai surat bisa masuk. Cukup meninggalkan KTP untuk masuk,” ungkapnya.

Meski sudah dibuka untuk umum sejak 2014, tapi diakuinya masyarakat belum banyak yang mengetahui. Biasanya mereka hanya foto di depan Gedung Agung. Syaifullah mengatakan, semua wisatawan dapat masuk mengunjungi Gedung Agung ini. Tak terkecuali wisatawan mancanegara. Gedung Agung yang terletak di sudut Jalan Malioboro dan Jalan Ahmad Dahlan ini buka setiap Senin – Sabtu pukul 09.00 – 15.00.

Apa saja yang ada di dalamnya? Berkunjung ke Gedung Agung ini, para wisatawan bisa menikmati tempat-tempat bersejarah. Juga berbagai koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan Istana Kepresidenan ini.

Untuk masuk ke Gedung Agung, yang juga menjadi tempat Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri lahir ini para pengunjung tidak dipungut biaya. Syaifullah menjelaskan utnuk masuk, syaratnya para wisatawan yang berkunjung diwajibkan berpakaian sopan dan bersepatu. Wisatawan yang mengenakan kaos oblong dan memakai sandal tidak akan diperkenankan masuk.

Begitu tiba di pos jaga dan mendaftar, para pengunjung akan dipandu pihak protokol istana untuk berkeliling. Mereka akan menjelaskan kisah sejarah sampai pada pengunaaan setiap sisi ruangan bagi aktifitas kunjungan kerja presiden.

Ketika masuk para pengunjung sudah di sambut oleh arca batu kuno setinggi 3,5 meter. Dari kejauhan tampak seperti sebatang lilin besar, sehingga banyak yang menyebutnya Patung Lilin.

Kunjungan dimulai dari Ruang Garuda yang berada di tengah gedung utama, ruang ini menjadi ruang pertama sebagai penyambut tamu negara. Di dalam Ruang Garuda ini terdapat dua ruang tamu yakni Ruang Soedirman yang berada di sebelah selatan dan Ruang Diponegoro yang di sebelah utara.

Menurut Syaifullah, di ruangan tersebut Kabinet Republik Indonesia dilantik tatkala Ibu Kota negara berpindah ke Jogjakarta pada 1946-1949. Ruang itu, lanjut Syaifullah,  juga dijadikan tempat sidang kabinet, pelantikan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat pada 3 Juni 1947. Serta pelantikannya sebagai Pucuk Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia pada 3 Juli 1947.

Sementara di Ruang Soedirman, digunakan untuk mengenang perjuangan Jendral Soedirman saat melawan Belanda. “Di ruangan ini pulalah dulunya Jendral Soedirman pamit untuk melakukan perang gerilya,” tuturnya.

Sedangkan Ruang Diponegoro digunakan untuk mengingat kembali perjuangan Diponegoro saat melawan penjajah. Di ruangan ini digantung lukisan Pangeran Diponegoro yang sedang berkuda.

Puas mengelilingi bangunan utama di komplek Gedung Agung, para pengunjung akan diarahkan menuju Gedung Seni Sino yang berada di sebalah selatan bangunan utama Gedung Agung.

Syaifullah menjelaskan jika gedung tersebut berfungsi sebagai museum Istana Kepresidenan Jogjakarta yang menyimpan berbagai koleksi seni dan cinderamata berbagai tamu negara yang berkunjung.

Di ruang ini juga terdapat koleksi lukisan-lukisan para pelukis Indonesia pada jaman dulu dan terdapat juga lukisan yang melukiskan para tokoh yang pernah menjabat sebagai presiden Indonesia mulai presiden  pertama, Soekarno sampai dengan Presiden Joko Widodo. “Tempat juga untuk penyelenggaraan acara-acara seremonial khusus serta dirancang sebagai gedung informasi” ungkapnya.

Selain itu apalagi yang bisa diperoleh di Gedung Agung? Lebih baik datang dan melihat-lihat sendiri koleksi lainnya di sana. “Silakan berkunjung,” ajak Syaifullah. (**/pra/er)