JOGJA – Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta menggelar acara Diskusi Interaktif Komunikasi Kesehatan mengenai upaya pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) melalui aktivitas fisik dengan tema “PTM? Siapa Takut!” pada Sabtu (13/7) di Kampus 3 Gedung Bonaventura UAJY.

Ketua Kampanye “PTM? Siapa Takut!”, Raden Arditya Mutwara Lokita menjelaskan, program kampanye ini sebagai bentuk dukungan mahasiswa MIK UAJY pada program Germas. Sekaligus perhatian atas banyaknya kasus kematian akibat PTM. “Angka kasus kematian akibat PTM di Indonesia dari tahun ke tahun selalu meningkat dan mirisnya, PTM merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia, terutama penyakit jantung,” tuturnya

Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinkes Kota Jogja drg. Arumi Wulansari, MPH juga turut mengungkapkan keprihatinannya pada peningkatan angka masyarakat yang terkena PTM.

“Berdasarkan data Riskesdas, DIJ menempati urutan ketiga sebagai daerah dengan tingkat prevalensi penduduk yang terkena PTM tertinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Dokter Umum RSUD Prambanan, dr. Sondang H.S Siagian, pencegahan PTM, perlu dilakukan. Salah satunya adalah dengan berolah raga secara rutin. Yang paling efektif adalah berenang. Dia menyarankan sebaiknya dilakukan selama 30-45 menit selama empat sampai lima hari dalam seminggu. “Yang penting rutin dan diusahakan bergerak terus menerus,” ujarnya.

Salah satu olah raga yang paling efektif, kata dia, adalah berenang karena dengan berenang. Karena semua badan ikut bergerak. “Begitu juga dengan senam kalau dibandingkan dengan jogging, karena dengan senam, kita ikut berpikir, sehingga lebih banyak membakar kalori,” ungkapnya.

Peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai PTM juga sebenarnya tidak terlepas dari peran tenaga kesehatan masyarakat. Ratmaniwa, founder Kesmas.id,menyebut melalui Kesmas.id, ingin ikut mempromosikan dan memperkenalkan Kesmas sebagai tenaga-tenaga kesehatan masyarakat yang tidak banyak diketahui orang. Caranya adalah lewat media sosial karena jangkauannya yang luas. “Nah, hal-hal seperti itu, kalau tidak diekspos, ya tidak akan ada yang tahu,” ujarnya.

Aktivitas fisik sederhana seperti yang dipraktikkan oleh peserta tersebut diapresiasi oleh salah satu pegiat kesehatan yang turut hadir sebagai panelis dalam diskusi interaktif, anggota Freeletics Jogjakarta, Munawar Hadi. Dalam diskusi, Hadi menjelaskan bahwa aktivitas fisik tidak harus dilakukan dengan berat dan mengeluarkan uang banyak. (*/pra/er)