SLEMAN – Ada 350 mitra menjadi korban investasi bodong PT Krishna Alam Sejahtera (KAS) yang melapor ke Polda DIJ. Total kerugian mencapai Rp 9 miliar.

Direskrimum Polda DIJ Kombes Pol Hadi Utomo mengatakan, telah membentuk tim khusus. Pihaknya bekerja sama dengan Polda Jawa Tengah dan Polres Klaten.

“Karena lokasi pusat usahanya di Klaten dan cakupan usahanya sampai DIJ,” kata Hadi Selasa (16/7).

Hadi mengatakan, pihaknya mengejar Direktur PT KAS, Al Farizi yang saat ini belum diketahui keberadaannya. “Kami akan kejar terlapor,” tegas Hadi.

Pihaknya baru melakukan pemeriksaan awal. Sebab baru beberapa hari ini laporan diterima. Meminta keterangan pelapor dan mengumpulkan keterangan korban lain. “Kami akan memeriksa semua karyawan yang terlibat,” katanya.

Kasus tersebut terjadi di seluruh wilayah DIJ. Di wilayah Gunungkidul juga ada laporan. Jumlahnya ratusan. “Kalau kasusnya sama dengan terlapor, maka kasusnya akan ditangani Polda DIJ,” ujar Hadi.

Modus penipuan berupa penawaran investasi di bidang jamu herbal. “Dia seperti memodifikasi multi level marketing (MLM) dengan penanaman investasi,” kata Hadi.

Cara kerja pelaku, menawarkan investasi ke korban dengan tiga pilihan paket. Dari tiga paket tersebut, lantas mendapatkan keuntungan tetap, sebesar 12 persen per minggu.

“Profit tetap ini yang saya katakan tidak ada usaha yang bisa menjamin profit tetap. Apalagi profitnya besar seperti ini, pasti ujungnya bodong,” ujar Hadi.

Dia mengingatkan masyarakat tidak mudah terkecoh. Sebab, perusahaan yang menawarkan investasi harus memiliki izin dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Selain itu, tidak akan ada perusahaan yang menawarkan keuntungan melebihi bunga bank.

“Polda DIJ akan serius menangani kasus ini karena banyak masyarakat yang butuh kepastian hukum,” tegasnya.

Saat ini, kondisi kantor cabang PT KAS yang berada di daerah Maguwoharjo, Depok, Sleman dalam kondisi terkunci. Di depan kantor dengan cat berwarna hijau itu juga telah terpasang garis polisi.

Sebelumnya, para korban penipuan PT KAS telah melapor ke Polda DIJ pada Minggu (14/7). Mereka melapor lantaran tidak mendapatkan kejelasan terkait nasib investasi di perusahaan tersebut.

“Rata-rata mereka ikut karena tergiur keuntungan cepat dan besar. Juga karena melihat ada yang sukses, jadi bikin penasaran dan mencoba,” kata salah seorang korban, Berta Berdnar, 58 tahun.

Ada tiga pilihan investasi yang ditawarkan kepada mitra. Pertama, Paket A dengan investasi Rp 8 juta dengan keuntungan per minggu Rp 1 juta. Kedua, Paket B dengan investasi Rp 16 juta dan keuntungan Rp 2 juta.

Ketiga, Paket C dengan investasi Rp 24 juta dan keuntungan Rp 3 juta. “Waktu pertama lancar, tapi makin ke sini tidak jelas,” kata pria yang berprofesi sebagai dosen itu. (har/iwa/by)