Kemenangan koalisi pasukan Mataram dan VOC atas Trunajaya membuat kepercayaan diri Sunan Amangkurat II bertambah. Elektabilitasnya di mata rakyat juga meningkat. Daerah-daerah bawahan yang semula melepaskan diri telah bergabung kembali.

Dukungan terhadap Amangkurat II semakin kuat. Semua lawan politiknya berhasil dilumpuhkan. Terutama para pemimpin aksi people power menduduki istana Mataram pada Mei 1677.

Saat memimpin aksi massa, Trunajaya mendapatkan atensi publik yang luar biasa. Mulai rakyat biasa, saudagar, hingga  ulama. Dukungan bertambah dari mantan anak buah Sultan Hasanuddin dari Makasar. Mereka lari ke Jawa setelah kalah perang dengan Arung Pallaka dari Bone. Orang-orang Makasar itu dipimpin Karaeng Galengsong.

Semua elemen itu akhikrnya bersatu padu. Merapatkan barisan. Mendukung Trunajaya memimpin gerakan menumbangkan rezim Mataram. Dari kalangan pemuka agama dukungan terbesar diberikan dua ulama.

Panembahan Giri asal Gresik dan Panembahan Rama dari Kajoran, Klaten. Salah satu semangat yang digaungkan Panembahan Giri adalah perjuangan atas dasar agama. Kesadaran terhadap Islam begitu kuat tertanam. Tersebar ramalan-ramalan Tuhan tidak akan memberkahi Jawa selama VOC masih berada di sana.

Bersamaan dengan itu pada Februari 1677, Sunan Amangkurat I memperbarui kontrak yang dibuat dengan VOC pada 1646. Raja memberikan konsensi berupa pembebasan cukai. Kompensasinya Kompeni membantu Mataram menghadapi musuh-musuhnya.

Pada Mei 1677, VOC melakukan campur tangan di pesisir. Terlibat bentrok dengan massa pendukung Trunajaya di Surabaya. Bentrok itu menimbulkan jatuhnya sejumlah korban jiwa. Kejadian itu mengundang empati. Mendorong banyak orang Jawa bergabung. Mendukung Trunajaya.

Cerita kemenangan Trunajaya atas Mataram kini telah berlalu. Dalam tempo kurang dari tiga tahun, aliansi Amangkurat II dan Kompeni berhasil membalikkan keadaan. Dari pecundang, Mataram kembali menjadi pemenang.

Tokoh-tokoh sentral pro Trunajaya satu per satu berhasil dilumpuhkan. Panembahan Rama gugur dalam pertempuran melawan pasukan Kapten Jan Albert Sloot di daerah Pajang, Surakarta pada September 1679. Nasib serupa dialami Panembahan Giri pada April 1680.

Panembahan Giri merupakan tokoh terakhir yang berhasil dilumpuhkan. Ulama keturunan Sunan Giri itu ditangkap dan dihukum mati menggunakan cambuk. Anggota keluarganya juga dimusnahkan. Sejak itu berakhirlah riwayat Giri Kedaton.

Puncaknya, pemimpin utama gerakan, Trunajaya bersama pengikutnya menyerah pada 26 Desember 1679. Kedua tangan Trunajaya diikat dengan cinde sutera. Dia kemudian menjadi tahanan politik. Nasibnya berakhir tragis. Trunajaya tewas setelah ditikam Amangkurat II dengan keris Kyai Balabar di Payak, Kediri, Jawa Timur pada 2 Januari 1680.

Pemimpin gerakan lainnya Karaeng Galengsong lebih dulu meninggal. Menantu Trunajaya asal Bone, Makasar meninggal karena menderita sakit saat melakukan perlawanan di Bukit Ngantang Malang pada 21 November 1679.

Ini membuat kubu Trunajaya melemah. Pendukung Karaeng Galengsong terbelah. Ada yang ingin balik ke Makasar. Sebagian lagi melanjutkan perjuangan membantu Trunajaya melawan aliansi Mataram dan VOC.

Setelah semua lawan politiknya sirna, Amangkurat II mulai berpikir membangun istana. Maklum, raja keenam Mataram itu belum punya keraton. Selama tiga tahun indekost  di Kadipaten Tegal yang dijadikan istana sementara. (zam)