JOGJA – Pelecehan seksual terhadap wisatawan di Jogja, dikhawatirkan akan menimbulkan stigma negatif pada pariwisata Jogja. Imbasnya kunjungan wisatawan akan menurun. Aparat hukum diminta bertindak tegas, supaya kasus serupa tak berulang.

“Memang saat ini belum ada data apakah tindakan itu berpengaruh ke kunjungan wisata. Tapi pasti ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan. Apalagi jika kabar ini tersebar bahkan hingga luar negeri,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Jogja Yeti Martanti Rabu (17/7).

Dia menjelaskan sulitnya menbangun citra positif di dunia pariwisata. Berbanding terbalik dengan munculnya citra negatif. Walau kasus atau isu kecil tapi memberi dampak yang signifikan.

Yeti meminta aparat penegak hukum bertindak tegas. Langkah ini guna memberikan efek jera kepada pelaku lainnya. Tindakan tegas juga bertujuan memberikan jaminan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan. “Harus memberikan ketegasan kepada pelaku karena membawa citra pariwisata Jogja. Saat ada kejadian seperti ini, biasanya yang bicara tidak hanya korban tapi juga orangtuanya. Ditambah lagi jika terunggah ke sosial media,” katanya.

Selama senin hingga selasa (15-16/7) lalu, jajaran kepolisian berhasil menangkap dua pelaku tindak asusila. Modusnya sama memegang bagian dada perempuan. Jika yang diamankan Polsek Mergangsan, pelakunya seorang guru honorer bernama Suryo Pramudiko, 37. Korbannya adalah seorang wisatawan mancanegara. Keesokan harinya giliran Polsek Kraton yang menciduk Umar Soleh, 29, karena kasus yang sama. Dengan korban seorang wisatawan domestik.

Kapolsek Kraton Kompol Etty Haryanti menuturkan pelaku bertindak seorang diri. Berawal saat pelaku melihat korban tengah berjalan kaki dan membututi. Saat dirasa sepi, pria asal Kaliwates Jember Jawa Timur ini langsung beraksi. “Perbuatan asusila seperti ini dijerat dengan Pasal 281 Ayat (1) KUHP. Mendapat ancaman hukuman kurung dua tahun penjara. Tidak mabuk dan dalam keadaan sadar, alasannya iseng,” jelasnya.

Perwira menengah satu melati ini mengakui kasus ini bukan pertama kalinya. Jajaranya pernah mendapatkan laporan dari warga. Sebagai antisipasi, dia meminta warga khususnya perempuan lebih waspada. Mulai dari berani berteriak, melawan atau tidak pergi seorang diri.

“Tidak ada salahnya membekali diri dengan ilmu bela diri dasar. Lalu lapor polisi agar ada tindakan tegas,” pesannya. (dwi/pra/er)