PURWOREJO – Aliran Sungai Lereng yang membelah kawasan Kecamatan Purwodadi hanya terlihat memanjang kecil dalam musim kemarau seperti sekarang ini. Di kanan-kiri masih terlihat hamparan padang rumput yang amat luas.

Di musim kemarau, Lereng yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk penampungan air dan mengurangi risiko banjir kurang berjalan optimal. Pemicunya, saluran Lereng teramat dangkal dan sempit.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Purworejo Subeno yang tinggal di Desa Gesing, Purwodadi, melihat penanganan saluran Lereng mendesak dilakukan. Sebagai bagian warga yang tinggal di sekitar saluran, kerap merasakan dampak luapan air saat hujan deras.

“Normalisasi jadi keharusan. Sekarang tinggi permukaan air sampai pemukiman warga sudah kurang dari dua meter,” kata Subeno Rabu (17/7).

Dikatakan, upaya penanganan saluran sebenarnya sudah diusulkan sejak lama. Setidaknya saat ia menjabat Kepala Desa Gesing sebelum tahun 2010. Bahkan dari pihak terkait sudah melakukan pengukuran lapangan, namun batal dilaksanakan. “Kabarnya tidak jadinya penanganan itu karena ada pengalihan kegiatan,”  tambah Subeno.

Kesempatan duduk sebagai anggota DPRD Purworejo pun dimanfaatkan untuk menyuarakan hal yang sama. Karena koordinasinya tidak di Purworejo namun di level BBWSO, kabar mengenai normalisasi Lereng sampai saat ini belum jelas.

“Padahal jika ditangani maksimal, selain untuk mengurangi risiko banjir, Sungai Lereng juga bisa dimanfaatkan sebagai embung untuk mencukupi kebutuhan air di musim kemarau,” paparnya.

Camat Purwodadi Herry Raharjo sependapat penanganan saluran Lereng seharusnya dilakukan. Penanganan Lereng bisa meminimalkan dampak lebih besar saat terjadi banjir.  “Di luar Lereng, sebenarnya ada Sungai Pasir yang memanjang di pinggiran pantai. Itu juga belum ditangani,” kata Herry.

Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Iman Tjiptadi mengakuiy, keberadaan Lereng dan Sungai Pasir kurang maksimal. Untuk Sungai Pasir lebarnya antara 15-20 meter, namun kini yang tersisa sekitar 5 meter saja.

“Ini memang bukan menjadi ranah kami, dan kami juga mendorong agar ada sebuah gerakan nyata untuk menormalkan Lereng maupun Sungai Pasir,” tutur Iman. (udi/laz/fj)