Syarat berdirinya negara berhasil dipenuhi Susuhunan Amangkurat II. Punya kawula atau rakyat, wilayah dan pemerintahan. Bahkan raja yang populer dengan sebutan Sunan Amral itu baru saja menempati istana baru. Dia mengubah nama Wanakerta menjadi Kartasura Hadiningrat. Sekaligus menjadi ibu kota Mataram yang baru.

Kartasura merupakan kelanjutan dari Mataram yang sebelumnya berpusat di Plered. Pemilihan Alas Wanakerta yang berada tak jauh dari pusat Kerajaan Pajang sesuai dengan ramalan kakek Amangkurat II, Pangeran Pekik.

Penguasa Kadipaten Surabaya itu pernah bermimpi didatangi raja Pajang Sultan Hadiwijaya. Kejadiannya saat Pekik tetirah di makam Hadiwijaya di Desa Butuh, Sragen, Surakarta. Pekik mengaku mendapatkan wangsit.

Cucunya yang bernama Raden Mas (RM) Rahmat akan menjadi raja besar Mataram. Cucu Pekik akan membangun keraton di Alas Wanakerta. Lokasinya tak jauh dari keraton Jaka Tingkir sewaktu menjadi raja Pajang.  Rahmat yang nantinya menjadi Amangkurat II itu terbukti jumeneng menjadi  raja. Dia juga membangun ibu kota yang baru bagi Mataram.

Keberhasilan Amangkurat II bertakhta menjadi Sunan Mataram tak bisa dilepaskan dari peran Vereenigne Oostindische Compagnie  atau VOC ikut menumpas Trunajaya dan kawan-kawan.

Keberhasilan Sunan Amral membangun ibu kota baru  tidak dapat dipisahkan dari kontribusi VOC.  Kongsi dagang Belanda itu tampil layaknya pemodal alias investor. Perang melawan Trunajaya membuat Amangkurat II harus berutang ke VOC.

Termasuk saat membangun Kartasura. Beberapa kali raja meneken perjanjian.  Kompeni mendapatkan banyak konsesi. Di antaranya, hak monopoli pembelian beras dan gula. Hak monopoli impor tekstil dan candi serta pembebasan cukai.

Amangkurat II berkepentingan agar investasi VOC di Mataram berjalan lancar. Saat meresmikan Istana Kartasura pada 11 September 1680, Sunan Amral memberikan penegasan soal tersebut. Dia berpidato di depan para pembesar Mataram dan VOC dalam sebuah jamuan makan malam. Isinya, Amangkurat II menegaskan visi Mataram di bawah kepemimpinnya.

Dia memberikan keleluasaan VOC berinvestasi. Pemerintahannya berjanji memberikan sejumlah kemudahan. Raja bertekad bertindak tegas siapa pun yang tidak setuju. Amangkurat II akan menghajar mereka yang mencoba menghalangi. Investasi VOC dibutuhkan oleh Mataram.

Investasi VOC akan digunakan membangun infrastruktur. Kartasura dibuat lebih modern dibandingkan saat ibu kota di Kotagede, Kerta maupun Plered. VOC merasa senang mendengar visi Mataram tersebut.

Meski situasi relatif terkendali, Amangkurat II masih punya pekerjaan rumah (PR) terkait Pangeran Poeger. Adik tiri raja ini tidak kunjung bersedia mengakui kepemimpinan kakaknya. Poeger tetap ngotot jumeneng  menjadi raja. Gelarnya Susuhunan Ing Ngalaga. Poeger menggunakan Plered sebagai pusat pemerintahannya.

Poeger beralasan dirinya menerima mandat dari ayahnya, Sunan Amangkurat I. Mandat itu berupa pemberian pusaka keraton tombak Kanjeng Kyai Ageng (KKA) Pleret dan keris KKA Mahesanular. Kedua pusaka diberikan saat istana Plered jatuh ke tangan Trunajaya pada Mei 1677. Pemberian berlangsung di pesanggrahan Desa Lesmana, Ajibarang, Banyumas.

Untuk menyelesaikan masalah dengan Poeger, Amangkurat II mengirimkan pasukan gabungan Mataram dan VOC menyerbu Plered. Perang suksesi terjadi. Dua pangeran sama-sama mendeklarasikan menjadi Susuhunan.

Dalam perang itu, Poeger meyakini dengan kesaktian dua pusaka dari leluhurnya. Sebaliknya, Amangkurat II lebih mempercayakan kepada pemodal asing untuk memperkuat takhta. Dalam perang yang berlangsung 1681, Poeger tergusur dari Plered. Poeger harus mengakui keunggulan Amangkurat II. (kus/laz/rg)