JOGJA – Penentuan trase (rute) pembangunan tol Jogja-Bawen dan Jogja Solo, terus dibahas. Pemerintah menargetkan titik trase pembangunan tol sudah rampung pada akhir tahun ini.

Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) Sugiyartanto menejelaskan, penentuan trase mesih menjadi pembahasan. Saat ini penentuan titik trase baru mencapai 80 persen.

GRAFIS: (HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

“Masih perlu satu dua kali pertemuan untuk ground survey dan mencocokkan trasenya,” kata Sugiyartanto usai bertemu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X di Bangsal Kepatihan, Kamis (18/7).

Beberapa titik trase yang memerlukan pembahasan cukup detail terutama untuk tol Jogja-Solo. Sebab, di pembangunan tol tersebut banyak melewati situs-situs bersejarah yang ada di kawasan Prambanan.

Tidak hanya itu, kata Sugiyartanto, pihaknya juga melakukan survei sedetail mungkin agar pembangunan konstruksi benar-benar terbebas dari kawasan cagar budaya.

Seperti pembangunan ruas tol yang ada di Malang, Jawa Timur. Ketika konstruksi pembangunan badan jalan ditemukan situs. Sehingga, harus digeser beberapa meter untuk menghindari rusaknya situs cagar budaya. “Jangan sampai kita sepertu itu,” terangnya.

Pembangunan ruas tol di Jogja nantinya ada berbagai jenis. Ada yang melayang (elevated), ada yang tidak. Ketentuan jenis tol itu akan dilihat dari kontur tanah yang dilewati. “Tidak semua elevated, karena nanti mahal,” katanya.

Ruas tol, ada juga yang dibangun secara  adgrade. Jenis tersebut, menurutnya, akan dilihat tergantung dari titik persimpangan. ”Tapi kan jalinan jalan tidak boleh putus,” jelasnya.

Pemerintah berjanji pembangunan tol yang melewati Jogjakarta tidak akan membunuh perekonomian yang akan dilewati. Terutama kawasan-kawasan wisata. ”Ya, itu nanti diberikan akses-akses yang memungkinan,”  katanya.

Nantinya para pengguna jalan tol dengan kendaraan kecil bisa mengakses langsung tempat-tempat wisata. Sedangkan bagi kendaraan besar bisa akan melalui jalan-jalan provinsi. “Itu pun bila aksesnya sudah memungkinkan,” tambahnya.

Setelah penentuan trase selesai, akan dilakukan proses lelang bagi kontraktor pelaksana dua tol tersebut. Ditargetkan pekerjaan konstruksi bisa dilaksanakan awal 2020.

Saat disinggung pembangunan tol secara bersamaan, hal itu bisa saja dilakukan. Hanya pengerjaan tol tersebut dilakukan secara tersegmen, baik dari Jawa Tengah dahulu, atau Jogjakarta.

Hal yang sama saat mengerjakan tol Trans Sumatera maupun Trans Jawa. ”Kan tidak sekaligus sepanjang itu dibangun bersamaan. Setelah terkonsentrasi, baru dihubungkan,”  tandasnya.

Sementara itu Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit menjelaskan, keberadaan pintu keluar masuk tol masih menjadi pembahasan serius. Sebab, keinginan pemprov keberadaan jaringan jalan tol bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar. “Intinya memfasiltasi perjalanan jarak jauh,” ujarnya.

Dijelaskan untuk tol Bawen-Jogja merupakan investasi penuh karena prakarsa dari pemerintah. Sedangkan Solo-Jogja merupakan prakarsa badan usaha. ”Artinya badan usaha yang memiliki ide gagasan mengajukan jalan tol itu,” jelasnya.

Meski begitu, bukan berarti badan usaha pemrakarsa jalan tol Jogja-Solo akan jadi pemenang lelang. Namun badan usaha pemrakarsa memiliki kelebihan. ”Kelebihannya bila ada badan usaha yang bisa menawarkan lebih rendah, tetap akan ditawarkan ke badan usaha pemrakarsa dahulu,” ungkap Danang.

Seperti diketahui, Jalan Tol Bawen-Jogja sepanjang 71 kilometer merupakan proyek strategis nasional. Di mana panjang jalan tol 11 kilometer yang melintasi DIJ akan memakan biaya Rp 3,3 triliun. Sisanya sepanjang 59 kilometer memakan dana sekitar Rp 5,6 triliun.

Besarnya biaya pembangunan tol yang melintas di DIJ disebabkan konstruksi pembangunan secara elevated di atas Selokan Mataram. “Lewat elevated, sudah sepakat untuk Jogja-Bawen,” kata HB X.

Gubernur menjelaskan, trase untuk tol Jogja-Bawen sudah selesai dibahas. Namun untuk tol Jogja-Solo belum mencapai final. “Saya minta soal tambahan underpass,”  tambah raja Keraton Jogja ini. (bhn/laz/rg)