Mengaku mendapat inspirasi dari kedua orang tua, Hendra Purnama pun mulai menyukai olahraga panahan. Kini, berkat kerja kerasnya, dia sukses menjadi atlet panahan andalan Indonesia.

ANA R DEWI, Jogja

NAMA Hendra Purnama cukup harum bagi pecinta panahan di Jogjakarta. Bagaimana tidak, atlet kelahiran Kota Gudeg ini memiliki segudang prestasi baik di kancah nasional maupun internasional.

Lahir dari keluarga atlet panahan, Hendra ingin mengikuti jejak kedua orang tua dan saudaranya. Dia merupakan adik dari atlet panahan andalan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) yakni Ana Widayati, Rahmat Sulistyawan, Edy Sudrajat, dan Titik Kusumawardhani.

Radar Jogja Jumat (19/7) berkesempatan mewawancarai Hendra mengenai aktivitas dan perjalanan karirnya sebagai atlet panahan. Di sela-sela kesibukan menyelesaikan tugas akhir di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Hendra menceritakan awal mula ia mulai jatuh cinta olahraga Panahan.

Dia mengaku sangat terinspirasi menggeluti dunia olahraga panahan lantaran kedua orang tuanya merupakan seorang pemanah. Apalagi ke-4  kakaknya juga seorang atlet panahan.

“Awalnya saya terinspirasi dari keluarga saya sendiri. Bapak dan ibu saya kan dulu juga atlet panahan,” katanya. Hendra mengatakan sang ayahlah yang kali pertama mengajarkan dia bermain panahan. Terlebih, sejak kecil Hendra sering berlatih di lapangan bersama keluarganya.

Atlet berusia 22 tahun ini menuturkan, ia mulai berlatih intensif sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). “Sejak kelas tiga SD sih mulai serius latihan,” katanya.

Selain itu, keinginan Hendra semakin kuat menjadi seorang atlet lantaran sang kakak saat itu mengenyam pendidikan di sekolah khusus olahraga, Ragunan. “Jadi saya terinspirasi juga dari kakak saya,”  tandasnya.

Dia pun ingin mengikuti jejak saudaranya, namun sempat terhalang lantaran syarat untuk bisa bersekolah di Ragunan yakni minimal harus mendapatkan juara nasional. Akhirnya keinginan Hendra untuk belajar di sekolah khusus olahraga pun terwujud saat dia berhasil mendapatkan medali perak di Kejurnas Junior 2008.

“Akhirnya saya bisa masuk sekolah di Ragunan,” kenangnya. Sejak saat itu prestasi Hendra mulai melesat. Suka duka selama menjadi atlet pun dialami Hendra. Dia mengaku sempat kesusahan mengatur jadwal sekolah dan latihan. Bahkan, tak jarang Hendra izin sekolah untuk mengikuti kejuaraan.

Meski begitu, ia sangat bangga lantaran bisa berprestasi dan membanggakan kedua orang tuanya. Terlebih, saat dirinya bisa mengibarkan bendera Merah Putih di kancah internasional. “Kebetulan saya masuk CPNS Kemenpora Jakarta berkat prestasi saya,” ujarnya.

Prestasi yang ditorehkan Hendra terbilang mentereng. Di antaranya, mendapatkan medali emas dan dua perak pada Kejurda Junior, Kejurnas PPLP 2011- 2013 menyabet tiga medali emas dan perak, Popnas 2011 mendapat dua emas, dua perak, dan dua perunggu, Popnas 2013 Jakarta mendapat emas, perak dan perunggu, PON 2016 mendapat medali perunggu beregu, Kejurnas Jakarta 2018 mendapat enam mas dan perak.

Sementara di kejuaraan internasional, Hendra pernah mewakili Indonesia di ajang Youth Olympic Junior di China 2014, Kejuaraan Dunia di Shanghai 2015 mendapat medali perunggu, Sea Games 2015 memperoleh perak, Olimpiade Turki peringkat satu beregu, Olimpiade Brasil mendapat peringkat delapan besar.

Pada 5 Juli lalu, Hendra juga sempat mengikuti kejuaraan Olimpiade Mahasiswa di Italia. Dia berhasil mendapat peringkat 14 di ajang tersebut. “Masuk 16 besar beregu dan perorangan,” ujarnya.

Saat ini Hendra tengah fokus mengikuti Pelatnas di Jakarta untuk persiapan Sea Games 2019 Filipina dan Olimpiade 2020. “Intinya saya ingin membawa Indonesia berprestasi di kancah dunia,” ujarnya.

Selain itu, Hendra mengaku apabila sudah tidak menjadi atlet alias  pensiun dia ingin menjadi seorang pelatih panahan. “Kebetulan pekerjaan saya kan PNS Kemenpora, jadi saya berharap bisa menjadi pelatih suatu saat nanti,” harap Hendra. (laz/rg)