JOGJA – Seminar bisnis yang sedang berlangsung di sebuah hotel berbintang di Jogja, minggu sore (21/7)  tiba-tiba dihentikan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan RI dan Korwas PPNS Polda DIJ. Para calon investor diminta tak sekadar melihat keuntungan yang diperoleh tapi juga legalitasnya.

Seminar yang bertajuk ‘Bincang Bisnis OctaFX Explorer’ dan diselenggarakan oleh OctaFX, sebuah broker asing yang berjalan tanpa izin usaha sebagai Pialang Berjangka dari Bappebti. Dihadiri 91 peserta dari DIJ dan sekitarnya. Suasana penggrebekan berjalan lancar dan tenang. Dipimpin langsung oleh Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan dan Penindakan Bappebti M Syist dan Kasi Korwas PPNS Polda DIJ Kompol Samsul Bahri.

“Kami pastikan kegiatan hari ini tanpa ada izin, untuk itu kami mohon kesadaran para peserta,” tegas Samsul di depan para peserta.

Dia menjelaskan, kegiatan ini melanggar Pasal 6 Peraturan Kepala Bappebti Nomor 83/BAPPEBTI/Per/06/2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan Promosi atau Iklan, Pelatihan, dan Pertemuan di Bidang Perdagangan Berjangka Komoditi. Bahwa setiap pihak yang berkedudukan  hukum di Indonesia dan/atau di luar negeri yang belum memiliki izin usaha dari Bappebti sebagai Bursa Berjangka, Lembaga Kliring Berjangka, Pialang Berjangka, Penasihat Berjangka, atau Pengelola Sentra Dana Berjangka dilarang melakukan kegiatan usaha Perdagangan Berjangka antara lain melalui Promosi atau iklan, Pelatihan dan Pertemuan mengenai Perdagangan Berjangka di Indonesia.

Di hadapan para peserta pun M Syist mengungkapkan jika OctaFX merupakan broker luar negeri yang tidak memiliki izin usaha sebagai Pialang Berjangka dari Bappebti. Dia mengaku telah melakukan pemantauan selama beberapa bulan terakhir pada acara Bincang Bisnis OctaFX Explorer, yang diselenggarakan di beberapa kota sejak awal 2019. Bahkan dalam satu bulan ini sudah digelar lima seminar di beberapa kota.

“Kegiatan seperti ini baru bisa dipastikan (lokasi dan waktunya) satu hari sebelumnya, agak sulit bagi otoritas untuk mengetahuinya, sangat tertutup informasinya,” jelasnya.

M Syist menyebut kegiatan ini juga melanggar Pasal 49 ayat (1a) Jo. Pasal 73D ayat (1) Jo. Pasal 74 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Pelanggaran ini diancam dengan pidana lima hingga 10 tahun penjara serta denda Rp. 10 miliar sampai Rp. 20 miliar. Selanjutnya, kata dia, akan dilakukan pemeriksaan terhadap penyelenggara, pembicara, penanggung jawab acara, termasuk pengelola hotel untuk dimintai keterangan.

“Nanti akan dilihat apa saja yang dijelaskan, apakah ada penawaran untuk melakukan trading, jenis trading-nya apa saja, misalnya forex, coin, atau gold. Kami tidak tahu diarahkan ke mana,” tuturnya.

Tindakan pengehentian ini dilakukan untuk mencegah masyarakat ke investasi yang salah. “Tentu saja nasabahnya ini akan kesulitan mendapatkan haknya,” jelas dia.

Salah satu peserta Munirin, mengaku dia belum mengetahui legalitas OctaFX saat mengikuti seminar ini. Datang dari Kebumen, pria 30 tahun ini mendapatkan informasi acara dari facebook. “Tertarik saja, sudah dengar dari dulu tapi belum pernah datang langsung,” katanya. (tif/pra/zl)