JOGJA – Puluhan warga Jagalan Beji Purwokinanti Pakualaman berbondong-bondong keluar dari rumah setelah merasakan gempa bumi. Puluhan petugas pun yang tergabung dari Kampung Tangguh Bencana (KTB) Jagalan Beji, secara sigap berusaha menyelamatkan warga. Setelahnya mereka segera membangun posko pengungsian dan tanggap darurat.

Korban dievakuasi. Termasuk penyandang disabilitas. Warga yang terluka pun langsung diberikan pertolongan medis. Tenda darurat dan dapur umum didirikan di tempat yang aman. Itu merupakan adegan dalam simulasi dan mitigasi bencana gempa bumi yang dilakukan di Jagalan, Beji, Purwokinanti, Pakualaman, minggu (21/7).

Kepala Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja, Hari Wahyudi mengatakan simulasi ini menjadi puncak kegiatan sosialisasi tanggap bencana terkait dengan rintisan Kampung Tangguh Bencana (KTB). “Ya kami lakukan pendampingan, ini untuk mengedukasi masyarakat supaya siap-siap dan waspada bila ada bencana di wilayahnya. Tentunya untuk mengurangi korban jiwa,” kata Hari.

KTB di Jagalan Beji sendiri merupakan yang ke-102 dari target 170 kampung di Kota Jogja yang. Dia mendorong tiap KTB agar rutin melakukan simulasi. Sehingga masyarakat bisa mengetahui bencana dan cara penanggulangannya. “Supaya mereka tidak lupa cara melakukan penanggulan saat terjadi bencana, jadi sebaiknya ini rutin dilakukan,” pesannya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi yang turut hadir, menyebut dengan adanya simulasi ini masyarakat tahu apa-apa saja yang harus dilakukan maupun kepada siapa koordinasi jika ada bencana di wilayahnya.

HP juga menjelaskan dengan pengalaman gempa yang terjadi 2006 silam, Pemkot telah memiliki standar-standar bangunan ketahanan terhadap gempa. “Ini kami bicara potensi yang kejadiannya tidak akan pernah tahu kapan, jadi yang kami antisipasi adalah buat bangunan yang tahan gempa dan jangan bermain atau menempati wilayah-wilayah yang rawan gempa,” pesannya. (cr15/pra/zl)