SLEMAN – Jogjakarta menempati urutan tertinggi usia harapan hidup untuk lansia. Kini, total penduduk usia 60 tahun atau lebih di Jogjakarta mencapai 12,75 persen, disusul Jawa Tengah 9,82 persen, Jawa Timur 9,76 persen dan Bali 9,22 persen.

Tingginya usia harapan hidup di DIJ ini menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Djuwita F. Moeloek karena faktor gaya hidup. Disamping juga karena budaya Jogja.

“Orang Jogja kalem, hiruk pikuknya juga tidak seperti kota lain. Mungkin karena ini (usia harapan hidup lansia tinggi),” ujar Nila saat meninjau pelayanan geriatri di RSUP Dr Sardjito Senin (22/7).

Layanan untuk para lansia perlu mendapatkan perhatian serius. Sebab ketika masuk usia lansia setidaknya ada satu penyakit yang menyertai. Seperti gula, hipertensi, ginjal, dan sebagainya.

“Adanya pelayanan lansia terpadu di RSUP Dr Sardjito seperti ini tujuannya untuk menolong lansia. Setidaknya meminimalkan risiko penyakit saat lansia,” ujar Nila.

Pelayanan terpadu lansia di RSUP Dr Sardjito bisa dijadikan contoh pelayanan geriatri di Indonesia. Selain ada di wilayah dengan angka harapan hidup paling tinggi, juga ada kolaborasi pelayanan lansia dari level rumah sakit hingga puskesmas.

Pelayanan terpadu untuk lansia sudah harus mulai dipikirkan. Sebab usia harapan hidup di Indonesia terus meningkat. Jika saat ini jumlah lansia mencapai 20 juta orang, diperkirakan akan naik dua kali lipat menjadi 40 juta orang.

Jika tidak diantisipasi, potensi penyakit saat lansia bisa semakin banyak. Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk perawatan penyakit juga mahal.

“Nanti menjadi masalah, dan biayanya mahal. Sekarang kami berusaha menguranginya. Dari awal tidak boleh stunting. Jadi, usia produktifnya bagus dan sampai lansia masih sehat. Itu harapan kami,” ungkap Nila.

Dia berharap sebelum mendekati lansia, masyarakat melakukan pengecekan rutin. Sehingga mampu meminimalkan potensi risiko penyakit saat lansia.

Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Darwito mengatakan pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan terbaik terhadap lansia. Melalui pelayanan yang lebih komprehensif dari berbagai disiplin ilmu kedokteran.

“Apalagi dengan jumlah kunjungan sekitar 1.620 orang pada 2018, diharapkan mampu terus meningkatkan harapan hidup bagi lansia,” kata Darwito. (har/iwa/by)