JOGJA – Insiden terperosoknya truk dan jip di proyek underpass Kentungan, Sleman, menuai sorotan. Salah satunya Komisi C DPRD DIJ. Komisi yang membidangi infrastruktur ini menilai, insiden itu akibat PT Istaka Karya selaku pelaksana proyek lalai. Salah satu badan usaha milik negara (BUMN) ini tidak memperhatikan aspek keselamatan.

Kelalaian itu, antara lain, terlihat dengan penataan jarak. Jarak antara lubang galian underpass dan ruas jalan kurang dua meter. Padahal, ada ratusan kendaraan yang melintas saban hari.

”Ini menandakan petugas di sana (lokasi proyek, Red) lalai atas keselamatan pengguna jalan,” kritik Anggota Komisi C DPRD DIJ Chang Wedryanto di kantornya Rabu (24/7).

Politikus PDI Perjuangan ini menganggap, tidak adanya petugas yang standby kian memperparah keteledoran pelaksana. Sebab, keberadaan petugas berfungsi mengarahkan kendaraan besar agar berputar balik. Alias tak melintasi area proyek underpass.

”Petugas cukup banyak. Masa tidak ada yang mengetahui ada truk masuk? Ini tidak masuk akal,” ketusnya.

Truk dan jip terperosok dan terguling di lubang galian proyek underpass Kentungan sekitar pukul 11.00 Selasa (23/7). Dari rekaman circuit closed television (CCTV), truk dan jip itu dalam kondisi berhenti. Menunggu lampu hijau traffic light. Truk yang berada persis di belakang jip terperosok lebih dulu. Rule Michael, 44, pengendara jip yang mengetahui insiden itu langsung bergegas keluar dari mobil. Untuk menyelamatkan istrinya, Magie, 33, dan anaknya, Sebastian, 1,5.

”Kejadiannya sangat cepat,” kata warga Australia yang telah tinggal lima bulan di Indonesia ini.

Ahmad Mujahidin, 33, pengemudi truk, tak mengetahui larangan melintas. Toh, tak ada satu pun petugas yang mengarahkannya. Pun dengan rambu-rambu larangan melintas. Nihil!

”Awalnya seperti ban gembos. Mulai terperosok itu dari ban belakang sebelah kanan,” tutur sopir truk nopol H 147 UI asal Batang, Jawa Tengah, ini.

Karena itu, Chang meminta pelaksana proyek bertanggung jawab. Pemerintah pusat juga harus turun tangan. Dengan memanggil pelaksana proyek. Itu sekaligus untuk melakukan evaluasi. Agar kejadian serupa tak terulang.

”Jangan sampai proyek nantinya memakan korban,” ingatnya.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X juga menaruh perhatian serius. HB X meminta insiden serupa tak terulang. Karena itu, HB X menyerahkan evaluasi kepada pemerintah pusat.

”Semoga itu untuk yang pertama dan terakhirlah,” pesannya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Divisi Operasi 1 PT Istaka Karya Wirawan tak menampik perihal pelaksana proyek salah perhitungan. Pelaksana proyek memang tak memperkirakan beban kendaraan yang melintas di pinggir lubang galian. Akibatnya, dinding penahan tanah yang belum dilakukan perkerasan tidak mampu menahan beban.

”Dibayangkan saja, itu jalan eksisting dari awal diperuntukkan mobil kecil, tapi yang melintas truk dengan muatan kayu penuh,” ungkapnya di sela meninjau lokasi underpass yang longsor Rabu.

Guna mengantisipasi kejadian serupa, PT Istaka Karya langsung menimbun lokasi longsor. Di mana panjang titik longsong sekitar 17 meter dan berkedalaman tiga meter. PT Istaka Karya juga melakukan perkerasan pada bagian dinding penahan tanah atau retaining wall.

”Sekarang sudah dilaksanakan. Kami juga sudah menyiapkan materialnya,” ujarnya.

Terkait nihilnya petugas yang standby, Wirawan menegaskan, seharusnya ada yang berjaga. Agar tak ada kendaraan besar yang melintas. Karena itu, PT Istaka Karya berencana menerapkan beberapa langkah antisipasi. Di antaranya dengan menambah petugas yang standby. Lebar ruas jalan di pinggir lubang galian juga akan dipersempit, sehingga hanya bisa dilintasi satu kendaraan.

”Kami juga mengusulkan ada portal di ujung proyek. Agar hanya kendaraan kecil yang bisa melintas,” katanya.

Atas insiden ini, Wirawan memastikan, pelaksana proyek memberikan ganti rugi kepada pengendara truk dan jip. Hanya, Wirawan tak menjelaskan rincin besaran ganti ruginya.

”Semua proyek yang dilakukan oleh kami, kami ada contractors all risk (CAR),” tambahnya. (bhn/har/zam/rg)