BANTUL – Program Studi S1 Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul dalam program pengabdian kemitraan masyarakat yang dilakukan di SD Bantul Timur, Jumat (26/7).

Ketua program yang juga sekretaris Prodi IP UMY Muhammad Eko Atmojo menjelaskan, tema pengabdian kali ini adalah pendidikan dini mitigasi bencana. Diikuti oleh siswa kelas 5 dan 6, para guru kelas, guru olahraga, pustakawan, dan satpam.

Menuru Eko, hal tersebut penting mengingat negara Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Selain itu anak-anak waktunya banyak dihabiskan di sekolah jadi sangat penting diberi pendidikan dini mitigasi bencana. ”Memang meminta bantuan BPBD sebagai lembaga yang expert di hidang  kebencanaan untuk menyampaikan materi dalam kegiatan FGD dengan guru dan simulasi,” lanjutnya.

Salah satu fasilitator dari BPBD Bantul Jirokhim Soleh menjelaskan, kegiatan ini baru sebagai langkah awal untuk menjadi Sekolah-Madrasah Aman Bencana (SMAB). Yakni mengenalkan warga sekolah terutama orang dewasa terkait tanggung jawab saat terjadi bencana.

”Kalau proses menuju ke SMAB sendiri harus ada dokumen kesiapsiagaan, dan sekolah harus siap secara struktural maupun non struktural, ini baru langkah awalnya,” katanya.

Materi yang disampaikan yakni baru sampai pada mekanisme peran, tugas, dan tanggungjawab personal terkait penyelamatan diri. Belum sampai manajemen pengurangan risiko bencana.

Jirokhim mengatakan, orang dewasa di lingkungan sekolah bertanggung jawab memberikan rasa aman dan nyaman kepada siswa. Juga memberikan instruksi untuk berlindung dan tempat aman. Selain guru, karyawan, juga warga sekitar, termasuk wali murid.

”Untuk anak kami lebih mengenalkan karakteristik bencana, secara personal tahu cara berlindung yang baik, bukan menyiapkan mereka utk jd tim penyelamat,” tuturnya.

Karena pengenalan bencana adalah sesuatu yang abstrak, Jirokhim melihat para siswa awalnya agak sulit untuk memahami. ”Yang penting kami tegaskan anak harus mengikuti arahan orang dewasa, bagaana mereka bereaksi atas saran dan aba-aba yang diberikan,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala SD Bantul Timur Wening Nurdiyah menyambut senang kegiatan ini. Karena selama ini belum ada pelatihan dan simulasi tanggap bencana di sekolah. ”Anak-anak juga semangat, guru-gurunyq jadi tahu, mungkin dulu tidak pernah berpikir, oh kalau terjadi bencana sikap saya harus begini,” ungkapnya.

Wening mengatakan pihaknya sudah berencana untuk menjadikan SD Bantul Timur sebagai SMAB. ”Sudah menuju ke sana. Insyaallah di anggaran tahun depan direncanakan program pembelajaran mitigasi bencana,” katanya.

Salah satu siswi kelas 5 Medina Lutfia Lita Anjani juga mengaku senang mendapatkan pengetahuan baru dalam simulasi ini. ”Dari kemarin dijarkan bagaimana berlindung kalau ada gempa, di bawah meja atau pintu, di sudut, belum tahu sebelumnya,” ungkapnya. (*/tif/ila)