JOGJA – Generasi milenial jangan sampai tercerabut dari akar budaya asalnya. Nilai luhur tanah kelahiran wajib dipegang teguh. Kearifan lokal daerah tidak boleh dihilangkan, meski berada di perantauan.

Itu mengemuka dalam diskusi publik kaum muda dan kesadaran budaya yang diinisiasi Angkatan Muda Asal Lamakera Yogyakarta (AMALY) di TBY Rabu malam (24/7). Lamakera merupakan salah satu desa yang terletak di Kabupaten Flores Timur, NTT.

Dosen Filsafat UGM Drs Abdul Malik Usman menyampaikan anak muda memiliki posisi penting dalam menjaga budaya dan peradaban. Generasi muda memiliki local wisdom dengan akar sejarah dan kebudayaan tempat kelahirannya. “Era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 saat ini menyebabkan generasi muda tercerabut dari akar budayanya. Gerakan pemuda generasi budaya guna memulihkan jati dirinya mutlak diperlukan,” jelasnya.

Ketua DPD Vox Point’ Indonesia DIY John S Keban menegaskan, peradaban bangsa ditentukan oleh ketahanan budayanya. Di Flores ada kebudayaan Lamaholot, yang mengandung kearifan lokal. Yakni nilai-nilai kebudayaan yang universal seperti gotong royong, kejujuran, kejujuran, keadilan, religiusitas, dan peduli lingkungan yang tidak boleh luntur. “Jadikan Budaya Lamaholot menjadi sari budaya bangsa,” ujarnya.

Menurut John, kultur masyarakat Lamaholot terbuka, mudah beradaptasi dan teguh dengan pendiriannya. Di manapun orang Lamaholot tinggal, mereka mau mendengar, rendah hati dan tahu diri. “Memiliki jiwa survival yang mampu menghadapi situasi apapun. Ini menjadi kebanggaan masyarakat Lamaholot. Dalam hal nilai universal, masyarakat Lamaholot memiliki kesamaan dengan masyarakat Jogja,” katanya.

Sedang Ketua AMALY Hakim Ridwan, didampingi Humas AMALY Muhammad Anan Saputra mencontohkan salah satu budaya yang masih dipegang teguh oleh mahasiswa asal Lamaholot adalah budaya berbusana. “Anak gadis Lamaholot  boleh berdandan, tetapi tidak boleh berlebihan. Dilarang keras bercelana pendek,” ungkapnya.

Ridwan bangga budaya yang dibawa dan dijaga pelajar dan mahasiswa dari Lamaholot diterapkan juga di daerah lain seperti Kupang, Makasar dan Malang. “Penting anak muda memegang teguh budaya leluhur meski tengah merantau di daerah lain,” tuturnya. (pra/zl)