JOGJA – Lima dari 1.000 perempuan di DIJ dipastikan menderita kanker serviks. Lebih tinggi dari nasional yang perbandingannya 1,5 per seribu perempuan.

Kepala Seksi Pencegehan Penyakit Dinkes DIJ Resno Agung Wibowo mengatakan, belum ada penelitian yang pasti penyebab besarnya prevelensi penderita kanker serviks di DIJ. Namun, sejumlah faktor pendorong terjadinya kanker serviks seperti memulai aktivitas seksual pada usia kurang dari 20 tahun, berganti-ganti pasangan seksual, hingga riwayat infkesi di daerah kelamin atau radang panggul.”Perempuan yang kerap melahirkan banyak anak pun memiliki potensi,” kata Agung dalam keterangnya di Ruang Rapat Dinkes DIJ Kamis (25/7).

Untuk menekan angka penderita kanker serviks, Dinkes DIJ melaksanakan program imunisasi human papilloma virus (HPV). Sasarannya perempuan rentang usia 11 hingga 12 tahun atau kelas 5 dan 6 SD yang ada di DIJ. Pemberian vaksin tersebut untuk tahun ini akan diberikan bagi seluruh siswi kelas 5. Untuk tahun depan, pemberian vaksin yang sama juga diberikan saat mereka duduk di kelas 6. Hal yang sama juga dilakukan di mana ada sekitar 8.000 siswi kelas 5 dari masing-masing kabupaten (Gunungkidul dan Kulonprogo) yang divaksinasi pada 2017 kemudian dilanjutkan pada 2018 bagi siswa yang sama. “Pemberian HPV harus dilakukan dua kali. Kalau satu kali tidak optimal. Ini sesuai prosedur,” katanya.

Dari data Dinkes, jumlah siswi yang disasar sebanyak 33.666 orang. Rinciannya, untuk wilayah Kota Jogja sebanyak 3.820 siswi dari 171 sekolah, Bantul sebanyak 6.942 siswi dari 434 sekolah, Sleman sebanyak 8.044 siswi dari 588 sekolah. Adapun Kulonprogo sebanyak 2.884 siswi dari 381 sekolah dan Gunungkidul 4.666 siswi dari 566 sekolah. Semuanya kelas 5 SD.

Jumlah tersebut belum termasuk siswi kelas 6 SD yang tahun lalu sudah melaksanakan program yang sama di Gunungkidul dan Kulonprogo. Jumlah totalnya sebanyak 7.580 siswi yang akan diberi imunisasi HPV. Sehingga, total siswi kelas 5 yang diimunisasi sebanyak 26.086 siswi dan kelas 6 sebanyak 7.580 siswi. ”Untuk siswi kelas 6 kami beri imunisasi mulai Agustus dan kelas 5 nanti di bulan November,” jelas Agung. Diharapkan masyarakat bisa memanfaatkan program tersebut. Sebab biaya untuk pemberian sekali imunisasi HPV sangat mahal. ”Tarif normalnya antara Rp750.000 hingga Rp1 juta untuk sekali suntik,” lanjutnya.

Sementara itu Kepala Seksi Kasi Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinkes Kota Jogja Iva Kusdiarini menyebut, selain anak, vaksin HPV juga menyasar wanita usia subur (WUS), rentang 30 hingga 50 tahun. Tercatat WUS di wilayah Kota Jogja mencapai 6.000 orang. Sementara untuk dosis ada peningkatakan sebanyak tiga dosis vaksin HPV.

Terkait pencegahan, sejatinya kanker serviks bisa sembuh. Terutama jika kanker ditemukan dalam kondisi lesi prakanker atau pertumbuhan jaringan yang abnormal. Caranya dengan krioterapi atau metode pendinginan. Tentunya diawali dengan inspeksi visual asam astetat (IVA) dan pap smear.

Krioterapi dapat dilakukan di beberapa Puskesmas Kota Jogja. Diantaranya Puskemas Gondokusuman I, Puskesmas Umbulharjo I, Puskesmas Mergangsan, Puskesmas Danurejan II, Puskesmas Pakualaman dan Puskesmas Gondomanan. (bhn/dwi/pra/zl)