MUNGKID – Sudah dua bulan gajah di Taman Wisata Candi Borobudur tidak lagi ditunggangi wisatawan. Ini menyusul adanya protes  yang menganggap penunggangan gajah sebagai bentuk penyiksaan terhadap hewan.

Namun, Manajer Administrasi dan Umum PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Leonardus Adityo Nugroho menampik hal ini. Ia menilai aktivitas menunggang gajah justru sebagai bentuk olah raga untuk gajah. TWC pun berencana mengaktifkan kembali wahana ini.

Menurutnya, gajah yang dipelihara oleh PT TWC merupakan gajah domestik yang sama sekali berbeda dengan gajah liar. “Pola perilaku mereka sudah piaraan. Kalaupun gajah ini dilepasliarkan, mereka akan mati karena tidak bisa mencari makan sendiri,” jelasnya Jumat.

Dikatakan, selama ini pihaknya sudah memenuhi standar konservasi. TWC bekerjasama dengan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dan FMI (Forum Mahout Indonesia). “Gajah dirantai itu sudah standar perawatan. Itu hal yang biasa. Kalau kebanyakan dilepas, akan berbahaya juga,”  tandas Adityo.

Saat ini ada lima ekor gajah yang dipelihara oleh pengelola. Sejak Februari 1991 mereka telah menghuni TWC. Berselang tiga tahun pihak pengelola mulai membuka wahana gajah tunggang dengan alasan kesehatan dan keamanan.

Kepala Mahout Winarto menuturkan, dulu sebelum dibuka wahana menunggang, gajah sering mengidap penyakit kembung. Para mahout pun harus mengajak jalan tiap malam sampai gajah mengeluarkan kentut. “Secara alamiah gajah memang suka jalan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, wahana ini sebenarnya merupakan bagian dari proses penjinakan gajah. Semakin berinteraksi dengan manusia, maka semakin jinak. Jika dilepas sifat liarnya akan muncul.

“Kalau sifat liar muncul, kami kesulitan melakukan perawatan. Mana mau mereka misalnya minum obat cacing, padahal itu harus,” jelasnya.

Namun mengenai proses penjinakan agar bisa ditunggangi, pihak TWC tidak tahu-menahu. Gajah yang ia terima dari Way Kambas sudah terlatih untuk ditunggangi. Selama ini pengelola membatasi berat tunggangan hanya dua orang, satu di antaranya anak kecil.

“Sebenarnya kalau dipaksa gajah bisa menahan berat 50 persen dari berat badannya sendiri. Tapi kami tidak sampai segitu. Kami membatasi hanya 20 persen. Itu pun berat dua orang tidak sampai 20 persen. Berat dua orang saja 200 kg, padahal berat gajah bisa 2-3 ton,” jelas Aditya.

Ia menduga dilancarkannya protes dari pengunjung luar negeri hanya karena tidak biasa. “Kalau kuda di negaranya sana ada. Gajah itu kan paling Indonesia, India, Thailand. Di relief kan ada. Padahal gajah justru lebih kuat dari kuda. Kemungkinan akan dibuka lagi. Tapi tentu dengan studi yang mendalam dulu,” tandas Aditya. (cr10/laz/er)