SLEMAN – Rencana pembangunan Taman Budaya Sleman (TBS) di Godean dipastikan gagal. Kegagalan disebabkan tidak adanya kesepakatan harga tanah antara Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman dengan masyarakat pemilik tanah.

Kendati gagal dibangun di Sleman barat, Kepala Disbud Sleman HY Aji Wulantara telah menyiapkan lokasi pengganti. Yaitu di daerah Pandowoharjo. “Kami sudah menyiapkan lahan seluas dua hektare,” kata Aji Jumat (26/7).

Lahan yang akan digunakan untuk TBS merupakan lahan milik pribadi dan bukan tanah kas desa (TKD). Saat ini pihaknya tengah menyiapkan proses untuk aprasial tanah. “Nanti untuk tanah dananya diambil dari anggaran dana keistimewaan (Danais),” katanya.

Aji menyampaikan, pihaknya sengaja memilih lahan milik pribadi karena lebih mudah mengurus administrasi. Sebab, jika menggunakan TKD, Pemkab Sleman harus mencari tanah pengganti. “Karena kalau TKD itu belum menjadi milik Pemkab,” jelasnya.

Akibat kegagalan pengadaan tanah di Godean, proses pembangunan TBS agak terhambat. Namun, proses pengadaan tanah tetap ditarget selesai tahun ini.

“Tahun ini kami upayakan untuk pengadaan tanah, tahun depan mulai proses detail engineering design (DED), tahun 2021 baru proses fisiknya,” katanya.

Pembangunan kebudayaan di Sleman pada dasarnya menggunakan konsep kiblat papat limo pancer. Artinya seluruh penjuru di wilayah Sleman harus dijangkau yakni dari empat penjuru mata angin timut, barat, selatan, utara, dan pusatnya ada di tengah.

Rencana pembangunan TBS itu pada dasarnya sebagai magnet kebudayaan untuk Sleman barat. Sebab, selama ini di sisi barat belum ada pusat kebudayaan. Namun, kendati gagal, Aji berpendapat pembangunan budaya dengan filosofi kiblat papat limo pancer juga turut gagal.

“Filosofinya tetap. Karena fisik itu bukan hanya taman budaya saja, nanti akan kami kembangkan dengan desa budaya yang ada di daerah Godean,” ungkapnya.

Aji juga menjelaskan, kiblat papat limo pancer meliputi Sleman timur yaitu Kecamatan Prambanan, Berbah, dan Kalasan yang kental dengan candi. Pembangunan kebudayaan kemudian menjadikan candi sebagai magnet.

Di utara meliputi Kecamatan Cangkringan, Tempel, Turi itu memiliki atmosfer Gunung Merapi, sehingga pembangunan kebudayaan di wilayah tersebut menjadikan Gunung Merapi sebagai magnet.

Sementara wilayah selatan meliputi Kecamatan Gamping memiliki Pesanggrahan Ambarketawang sebagai suatu yang monumental. Hal itu kemudian menjadi pusat pembangunan kebudayaan karena memang umurnya lebih tua dari Kesultanan Jogjakarta Hadinigrat.

Kemudian untuk tengah meliputi Kecamatan Sleman, Ngaglik, Mlati menjadi sejarah pusat pemerintahan. Sehingga hal itu yang selama ini mengispirasi pembangunan di wilayah tengah.

Sebelumnya, Disbud Sleman berencana membuat TBS di Dusun Berjo Kulon, Desa Sidoluhur, Godean. Lahan itu merupakan lahan persawahaan produktif di wilayah tersebut. Namun gagal karena tidak ada kepekatan harga.

Saat Radar Jogja menelusuri lokasi tersebut dan bertemu dengan salah seorang warga yang enggan dikorankan namanya, mengatakan ada perbedaan harga tanah yang cukup signifikan. “Tanah di pinggir jalan dihargai Rp 3 juta per meter. Kok yang di sini Rp 350 ribu per meter. Bedanya jauh,” ujarnya. (har/iwa/zl)